27 Oktober 2017•Update: 27 Oktober 2017
Gokhan Ergocun dan Bahattin Gonultas
ANKARA
Turki telah aktif mengurangi emisi gas rumah kaca, kata Wakil Menteri Lingkungan dan Urbanisasi, Kamis.
Semen dan beton diproduksi dari abu cerobong pabrik dan listrik dihasilkan dari kotoran hewan, kata Profesor Mustafa Ozturk.
Emisi gas rumah kaca adalah masalah semua umat manusia, dan setiap orang memiliki tanggung jawab dalam hal ini, kata Ozturk kepada Anadolu Agency.
"Kami mengolah kembali besi dan aluminium dari ampas bijih yang diproduksi pabrik besi dan baja. Kami juga menggunakan bahan dari konstruksi seperti pipa saluran pembuangan, parket, dan batu fondasi," jelas Ozturk.
Abu dari cerobong pabrik digunakan sebagai bahan mentah semen dan beton. Ini dapat mencegah kerusakan sumber daya alam," ujar dia.
Ozturk juga mengatakan bahwa 154 juta ton kotoran hewan diproduksi tiap tahunnya, dan lebih dari 50 tanaman biogas menghasilkan energi dari pupuk kandang.
"Kami memperbolehkan kisaran 4-5 proyek energi terbarukan setiap bulannya," kata Ozturk.
Tiongkok, India, dan Amerika Serikat telah memimpin proyek pengurangan emisi gas rumah kaca.
"Dilihat dari masing-masing emisi gas rumah kaca, Tiongkok dan India sangat rendah, namun tidak di AS," tambah dia.
Ozturk berkata, sementara 6,07 ton dan 6,7 ton emisi gas rumah kaca dihasilkan di Turki dan Uni Eropa setiap tahunnya, AS menghasilkan 16,5 ton.
Ia menekankan bahwa sikap Presiden AS Donald Trump terhadap emisi gas rumah kaca tidaklah tepat.
Turki akan mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 2023.
Menurut Asosiasi LPG Eropa, Turki memiliki pasar autogas terbesar kedua di dunia setelah Korea Selatan.