Cuneyt Karada, Meltem Bulur
07 Januari 2018•Update: 08 Januari 2018
Cuneyt Karada, Meltem Bulur
GOSLAR, Jerman
Menteri Luar Negeri Turki mengatakan bahwa perselisihan antara Ankara dan Berlin dapat diatasi melalui dialog.
“Kami, sebagai menteri luar negeri, meyakini perbedaan di antara kami dapat diatasi melalui dialog,” kata Mevlut Cavusoglu dalam konferensi pers dengan Sigmar Gabriel di Lower Saxony, Jerman, Sabtu.
Walau mengakui perbedaan tetap ada antara kedua negara, Cavusoglu mengatakan tidak perlu untuk menyetujui proses keanggotaan Turki di UE.
“Namun kedua belah pihak butuh untuk mengatasi beberapa isu, seperti memperbarui kesepakatan Peraturan Bea Cukai.”
Meskipun tidak menjadi anggota Uni Eropa, Turki telah menjadi bagian dari kesepakatan Bea Cukai sejak 1995.
Namun, kesepakatan perdagangan tidak meliputi pertanian (kecuali untuk memproses produk pertanian), pelayanan atau pengadaan publik.
Ankara telah mendorong Uni Eropa untuk memasukkan Turki ke dalam kesepakatan yang telah diperbarui. Tapi ketegangan Turki dengan Jerman telah menghentikan proses yang telah berjalan.
Cavusoglu mengatakan bahwa ada kebutuhan untuk menguatkan hubungan dengan Jerman untuk melawan Daesh dan beberapa kelompok teroris lainnya.
“Kami menyambut langkah Jerman yang melawan PKK. Menempatkan Adil Oksuz dalam daftar pencarian orang adalah satu langkah maju. Namun, kami memiliki harapan yang lebih dari Jerman.”
Kerja sama yang erat
Turki menuding Oksuz sebagai dalang usaha kudeta yang gagal pada 15 Juli 2016 di Turki.
Dia ditahan di Turki pada 16 Juli pagi, namun kemudian dibebaskan dan sejak itu menghilang.
Organisasi Teroris Fetullah (FETO) dan pemimpinnya yang berbasis di AS, Fetullah Gulen mengatur upaya kudeta yang gagal, yang menewaskan 250 orang dan korban luka-luka hingga 2.200 orang.
PKK telah terdaftar sebagai organisasi teroris oleh Turki, AS dan UE.
“Hari ini, kami memiliki hubungan yang erat (dengan Jerman) melawan Daesh. Kami di pihak yang sama untuk permasalahan Suriah, Yaman, Libya dan beberapa isu lainnya. Kami menginginkan stabilitas dan keamanan di wilayah.”
Hubungan antara Ankara dan Berlin menegang sejak upaya kudeta yang gagal, politisi Turki mengkritisi Jerman karena dianggap gagal menunjukkan solidaritas yang kuat dengan pemerintah Turki terhadap usaha pengambilalihan oleh militer.
Ankara juga mengkritisi Berlin karena telah menutup mata kepada organisasi-organisasi terlarang dan organisasi-organisasi teroris seperti FETO, PKK, DHKP-C dan MLKP, yang terus menggunakan Jerman sebagai tempat mereka untuk memperoleh dana, perekrutan dan menyebarkan propaganda.
‘Turki, Jerman akan mendukung dialog strategis’
Di tempat yang sama, Gabriel mengatakan meski terdapat perbedaan pendapat, ini adalah tugas kedua negara untuk mengatasi semua kesulitan dalam hubungan antara Jerman dan Turki.
“Kami memiliki niat yang serius dalam hal ini. Bersama rekan saya, kami melihat hal ini sebagai tugas bersama untuk mengatasi ketegangan ini,” ujar Gabriel.
Dia juga menambahkan, dirinya dan Cavusoglu telah sepakat untuk mendorong menteri ekonomi mereka untuk mengadakan kembali komisi ekonomi Turki-Jerman.
Gabriel menyebut, Kementerian Luar Negeri Turki dan Jerman mendukung dialog strategis antara kedua negara.
Meski terdapat ketidaksepakatan, kata Gabriela, diplomat kedua negara ini prihatin dengan perkembangan di Suriah dan Yaman.
Mengenai aktivitas PKK di Jerman, Gabriel mengatakan polisi Jerman mengambil tindakan yang diperlukan untuk melawan beberapa organisasi teroris.
“Akhir-akhir ini, kami tidak mengizinkan mereka untuk mengibarkan bendera mereka di Dusseldorf,” ucapnya.
“Teror adalah teror,” imbuh Gabriel.
Turki sudah lama meminta untuk menindak secara tegas terhadap kegiatan PKK di Jerman.
Organisasi teroris tersebut memiliki hampir 14.000 pengikut di antara populasi imigran Kurdi di Jerman, menurut badan intelijen domestik Jerman BfV.
Gabriel juga mengatakan dia telah setuju untuk menghadiri perayaan seratus tahun Sekolah Jerman di Istanbul.