Nasional

Mencari peta jalan pulang dari bawah kolong jembatan

Selain dapat kembali ke tengah masyarakat komunitas Tasawuf Underground juga berharap dapat menjadi jalan anak-anak Punk kembali mengingat kepada Sang Pencipta

Megiza Soeharto Asmail  | 14.12.2018 - Update : 15.12.2018
Mencari peta jalan pulang dari bawah kolong jembatan Sejumlah anak punk belajar membaca Al-quran dengan Komunitas Tasawuf Underground di kolong jalan layang Stasiun Tebet, Jakarta, Indonesia pada 9 Desember 2018. Dengan menggunakan konsep persahabatan, komunitas ini mengajak anak-anak punk dan anak jalanan kembali ke dalam kehidupan yang lebih baik dan menyiapkan diri untuk kembali masuk dalam masyarakat. (Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

Megiza Asmail

JAKARTA

“Tinggalkanlah alam khayalmu, jangan pernah kehidupan dunia memperdayaimu,” sebuah kutipan surat dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani diunggah sebuah akun Instagram dengan pengikut lebih dari 22ribu orang langsung dihujani tanda cinta para pengikutnya.

Akun bernama Tasawuf Underground itu acap kali mengunggah kata-kata Abdul Qadir Jaelani atau Abd al-Qadir al-Gilani, tokoh dari Persia yang dikenal sebagai seorang ulama fiqih yang sangat dihormati oleh Ahlussunah wal Jamaah dan dianggap wali dalam dunia tarekat dan sufisme.

Halim Ambiya, penggagas komunitas bernama Tasawuf Underground mengaku menggunakan media sosial untuk mensyiarkan kalimat-kalimat penggugah hati seperti itu untuk mengajak anak-anak punk kembali mengingat hakikat mereka sebagai manusia.

Sejak tiga tahun lalu Halim mendatangi dari kolong jembatan satu ke kolong yang lainnya di sekitar Ciputat dan Jakarta. Satu persatu dia membuka diri berkenalan dengan anak jalanan, yang kebanyakan dari mereka mengamini ideologi kehidupan punk yang anti-kemapanan.

Bukan pada pagi atau siang hari, Halim menyusuri kolong-kolong jembatan untuk berkenalan dengan para penghuni jalanan itu. Malam hari menjadi pilihan Halim menyambangi anak-anak yang sedang beristirahat usai mereka mencari uang dengan melawan kerasnya kehidupan jalanan di siang hari.

“Saya ajak mereka ngopi. Saya ajak ngobrol, dan saya menemui mereka beberapa kali,” kata Halim saat berbicara dengan Anadolu Agency di kolong fly-over Tebet, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Membuka diri untuk berkenalan dengan anak-anak jalanan lewat ajakan mengobrol di malam hari itu, diakui Halim, menjadi pintu dia untuk mengenali kehidupan anak-anak jalanan ataupun anak punk.

Setelah beberapa kali pertemuan dan membagi kisah kehidupan, Halim pun mengajak anak-anak jalanan dan punkers ini untuk tak lagi tinggal di kolong jembatan. Satu persatu dari mereka dibawa ke rumah yang kini menjadi markas di kawasan Ciputat.

Di basecamp itu, sebut Halim, anak-anak jalanan kemudian mengikuti pelajaran mengaji dan menulis. Bukan sembarangan menulis, tulisan yang mereka buat, kata Halim, sesungguhnya adalah bagian dari terapi yang dia buat.

Anak-anak jalanan dan punk itu kemudian bercerita tentang pengalaman mereka dipandang sebelah mata, bahkan dijauhkan saat bersosialisasi di tengah masyarakat.

Pria yang bekerja sebagai penulis dan penyunting naskah lepas ini menyimpulkan bahwa anak-anak punk ini sudah kenyang dituduh sebagai pelaku kriminal oleh masyarakat, bahkan ketika mereka ingin mengisi perut di rumah makan pinggir jalan.

Masyarakat, kata Halim, sudah berprasangka negatif terlebih dulu pada anak-anak punk sebelum membuka diri berkenalan dengan mereka. Tak hanya mendengar kesaksian anak-anak punk itu, Halim pun sempat merasakan pengalaman tak menyenangkan. Persis seperti yang diceritakan.

“Ketika saya mau mentraktir makan di warteg, saya tanya apa ada ayam 15 [potong], dibilang [si pemilik warteg] nasi sudah habis,” kata Halim.

Dan itu, imbuh dia, sempat terjadi beberapa kali sampai akhirnya Halim bernegosiasi dengan si empunya warung makan akan melapor pada polisi jika dia dan anak-anak punk yang bersamanya tak diizinkan makan.

“Jadi untuk makan saja di restoran dengan uang yang dia bawa, anak punk itu susah. Padahal dia mau beli, tapi enggak boleh makan di situ. Berarti kan ada masalah di masyarakat,” tutur Halim.

Tertutupnya pintu masyarakat untuk kehadiran anak-anak punk juga disebut Halim terasa hingga ke rumah ibadah. Di masjid, ujar dia, anak-anak yang ingin sekadar berteduh dan ingin mencoba sholat seringkali mendapat reaksi negatif dari penjaga masjid.

“Mereka ke masjid ada yang sekedar untuk berteduh, untuk coba-coba sholat, tapi sudah dianggap negatif. Ya enggak dianggap berbahaya, cuma dicuriga sandal atau amplifier masjid yang akan hilang [jika mereka masuk masjid],” ungkap dia.

Dengan tanggapan-tanggapan tak menyenangkan itu, Halim kemudian menawarkan diri untuk mengajarkan mereka mengaji. “Dahsyat!” kata dia mengingat reaksi anak-anak punk yang dia ajak mengaji.

Mereka, ujar Halim, dapat membaca al-fatihah. Namun, ketika anak-anak punk ini diajarkan untuk memahami terjemahan dari ayat-ayat Quran mereka lebih menghayati. Lebih-lebih dari anak-anak yang bukan dari kelompok mereka.

“Dari situ saya menangkap bahwa mereka itu kerap berkomunikasi dengan Tuhan, tapi dengan cara yang diam-diam. Berbeda dengan kita yang kadang baru bicara sedikit sama Tuhan, sudah berkoar-koar,” tukas Halim.

Atas latar belakang itu, Halim pun ingin mengajarkan tentang syariat Islam kepada anak-anak punk yang telah dibawanya dari kolong jembatan.

Melafalkan Astaghfirullahaladzim dengan mendalami artinya yang berupa permohonan ampun kepada Allah, sebut Halim, menjadi momen langkah awal anak-anak punk ini mengembalikan kehidupannya ke jalan yang semestinya.

“Saya hanya mengajarkan syariatnya saja. Toh, teknik untuk berkomunikasi dengan Tuhan mereka sudah dapat. Saya ajarkan istigfhar, tangisan mereka sudah seperti menangis sangat dalam,” cerita Halim.

Alexander Angga Setiawan, 24 (kiri) bersama istrinya Fauzia Zulfira, 22 (kanan) keduanya saat mengaji dengan Komunitas Tasawuf Underground di kolong jalan layang Stasiun Tebet, Jakarta, Indonesia pada 9 Desember 2018. Dengan menggunakan konsep persahabatan, komunitas ini mengajak anak-anak punk dan anak jalanan kembali ke dalam kehidupan yang lebih baik dan menyiapkan diri untuk kembali masuk dalam masyarakat. (Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency)

Membuka pintu persahabatan

Tak ingin berjalan sendiri untuk mengajak anak-anak punk ini kembali ke jalan dikhitahkan oleh mereka sebagai manusia, lambat laun cerita-cerita tentang kehidupan baru anak punk di sosial media dilihat oleh banyak relawan.

Bukan berperan sebagai penyumbang dana, namun relawan-relawan tersebut mengulurkan tangan sebagai sahabat. Halim yakin, bahwa pintu masuk ke kehidupan anak-anak punk ini adalah dengan bersahabat.

“Karena penjahat sekalipun itu punya sahabat. Apalagi punk yang bukan penjahat. Jadi tawaran satu-satunya adalah tawaran yang paling telak bagi mereka adalah merangkul mereka. Kalau sebutannya itu di-wong-ke, diorangkan,” ujar Halim.

Karakter anak-anak punk yang senang membantu kawan-kawanya pun akhirnya membuat komunitas Tasawuf Underground membesar. Halim menyebut, anak-anak punk ini mengajak teman-teman jalanan mereka untuk membuat lebih percaya diri dalam memperbaiki hidup.

“Tapi lagi-lagi tidak bisa memaksakan agama dengan cara konvensional, tanpa memahami psikologi mereka,” imbuh Halim.

Konsep pendekatan personal, yang membebaskan relawan merangkul langsung anak-anak punk akhirnya membentuk persahabatan baru antara anak punk dengan masyarakat.

Dari situ juga, dukungan dalam menghadapi persoalan sosial dan ekonomi yang dihadapi anak punk terbantu.

“Seperti kemarin ada yang tertangkap karena tidur di kolong, akhirnya dibantu sama relawan. Ada juga kemarin yang hamil besar, saya tidak perlu bikin proposal, tapi para relawan ini membantu secara otomatis, ya karena sudah bersahabat,” tutur Halim.

Halim yakin, bahwa mendekati anak punk atau anak jalanan itu hanya dapat dilakukan melalui pintu persahabatan.

Baginya, mustahil dapat mengajak anak punk atau anak jalanan kembali ke tengah masyarakat tanpa melalui jalan tersebut.

“Seorang ustadz kalau hanya ada di Menara Gading ya enggak akan bisa masuk. Karena mereka tidak bersahabat. Mereka terbiasa kok mendengar ceramah tapi apakah masuk? Tidak, karena mereka tidak menjadi sahabat,” kata Halim.

Bantuan sosial lainnya yang muncul dari relawan Tasawuf Underground adalah dengan diberikannya kesempatan untuk anak-anak punk mengeluarkan keahlian mereka.

Para relawan, kata Halim, berdiskusi apa kira-kira keahlian anak-anak punk ini. Relawan yang memiliki kedai kopi, memberi kesempatan mereka untuk belajar menjadi barista. 

Ada juga anak-anak punk yang diajarkan desain grafis, melihat kesukaan mereka kepada seni rajah tubuh.

“Kita mencari keahlian mereka, dan kadang relawan yang menjadi think-tank,” imbuh Halim.

Sejumlah anak punk belajar membaca Al-quran dengan Komunitas Tasawuf Underground di kolong jalan layang Stasiun Tebet, Jakarta, Indonesia pada 9 Desember 2018. Dengan menggunakan konsep persahabatan, komunitas ini mengajak anak-anak punk dan anak jalanan kembali ke dalam kehidupan yang lebih baik dan menyiapkan diri untuk kembali masuk dalam masyarakat. (Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency)

Jalan pulang anak punk

Ingin untuk terlibat dan membantu anak-anak jalan dan para punkers ini diakui Halim tidak seperti mengajak anak untuk menjalani sekolah formal. Alasannya, memahami dan membantu anak punk keluar dari problematika hidup adalah targetnya.

Beberapa dari anak punk yang memiliki masalah sosial akibat ketergantungan obat, kata Halim, dibantu dengan menjalani terapi melepaskan kecanduan narkotik terlebih dulu.

Terapi dzikir dan hydroterapi, sebut dia, menjadi cara yang digunakan di Tasawuf Underground. Nantinya, setelah lepas dari kecanduan narkotik, anak tersebut akan diajak bicara tentang apa saja keahlian mereka yang bisa dilakukan untuk menjalani hidup.

“Jadi kita menyesuaikan individu masing-masing. Bukan mereka yang harus ikut sistem kita. Artinya, ketika mereka sudah tidak di kolong, di jalanan, dan mau kembali pulang, itu artinya mereka berhasil dan menjadi sebuah kelulusan,” kata dia.

Selain dapat kembali ke tengah masyarakat dan siap untuk menghidupi dirinya, Tasawuf Underground juga berharap pembelajaran anak-anak punk dalam komunitas ini dapat menjadi jalan mereka kembali kepada Sang Pencipta.

Menjadi peta pulang ke keluarga dan kepada Allah, kata Halim, adalah target akhir dari anak-anak punk di komunitas ini.

“Yang seperti itu adalah arti dari kembali pulang. Mereka ada bukan untuk membesarkan komunitas ini, tapi kami ingin menyadarkan kepada mereka yang selama ini lengah akan hal tersebut,” tukas Halim.

Komunitas Tasawuf Underground saat ini sudah diikuti oleh lebih dari 280ribu orang di jejaring Facebook, dan lebih dari 22 ribu orang di jaringan Instagram mereka. 

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.