Hayati Nupus
25 Oktober 2018•Update: 26 Oktober 2018
Hayati Nupus
JAKARTA
Lembaga Swadaya Masyarakat AMAN Indonesia mengatakan pemerintah perlu melibatkan perempuan dalam penanganan terorisme.
Direktur AMAN Indonesia Dwi Rubiyanti Kholifah mengatakan pelibatan itu menjadi penting terutama setelah adanya perempuan yang menjadi pelaku aktif dalam sederet kasus terorisme di Indonesia.
“Ini menjadi tantangan perempuan untuk ikut dalam penanggulangan terorisme,” ujar Dwi dalam diskusi publik Women Leadership in Combating Terorism, Kamis, di Jakarta.
Pelibatan perempuan, kata Dwi, berarti juga membuka ruang dialog yang lebih banyak. Apalagi perempuan merupakan representasi kelompok marjinal dalam komunitas.
Beberapa akar masalah adanya aksi ekstrem, ujar Dwi, karena persoalan kelompok marginal, yaitu ketidakadilan dan ketidaksetaraan.
Persoalan itu, menurut Dwi, tidak bisa diselesaikan dalam jangka waktu singkat.
Sejauh ini pelibatan perempuan di Badan Nasional Penanganan Terorisme (BNPT) baru sebatas pencegahan. Peran itu pun masih amat minim, tandas dia.
Ahli Madya Kementerian Hukum dan HAM Muhammad Khamdan menyebut pelembagaan BNPT perlu diubah, dari bentuk badan menjadi komisi.
Dengan perubahan itu, lanjut Khamdan, struktur BNPT tak hanya berisikan PNS, polri dan militer, namun juga masyarakat sipil. Ini sekaligus peluang agar perempuan bisa masuk untuk turut merumuskan kebijakan penanganan terorisme.
Saat ini, tambah Khamdan, kapasitas BNPT baru sebatas penindakan. Lembaga tersebut masih gagap ketika merumuskan deradikalisasi.
“Kalau sipil masuk, persoalan deradikalisasi akan lebih mudah,” kata Khamdan.
Dengan bentuk komisi, menurut Khamdan, keputusan di lembaga tersebut akan diambil secara collective collegial.
Selain itu, ujar Khamdan, dengan bentuk pelembagaan komisi, lembaga tersebut akan lebih fleksibel bergerak dan merumuskan kebijakan.
Beberapa aksi teror yang terjadi belakangan di Indonesia melibatkan perempuan secara aktif. Di antarnya adalah Dian Yulia Novi yang berencana menggelar aksi bom bunuh diri di istana presiden namun keburu ditangkap Densus 88 Antiteror pada 10 Desember 2016 lalu di Bekasi.
Begitu pula dengan Ika Puspitasari alias Salsabila Taslimah, yang berencana menggelar aksi bunuh diri pada malam pergantian tahun 2016, kemudian ditangkap Densus 88 Antiteror di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Desember 2015.
Juga Jumiatun Muslim alias Atun alias Bunga alias Umi Delima. Ia istri Santoso, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT).
Bom Surabaya yang mengagetkan publik pada Mei lalu tak hanya melibatkan perempuan, Puji Kuswati, melainkan juga anak-anaknya.