Muhammad Latief
06 Agustus 2018•Update: 06 Agustus 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Sebanyak 82 orang meninggal dunia akibat gempa 7 skala richter yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Barat pada Minggu sekitar pukul 18.46 WITA, menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan ratusan orang mengalami luka-luka dan ribuan lain mengunggsi ke tempat yang lebih aman. Ribuan bangunan juga dilaporkan mengalami kerusakan.
“Aparat terus melakukan evakuasi dan penanganan darurat akibat gempa bumi,” ujar Sutopo dalam siaran persnya.
Wilayah paling parah mengalami kerusakan akibat gempa adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur dan Kota Mataram.
Di Lombok Utara korban meninggal sebanyak 65 orang, Lombok Barat sembilan orang, Lombok Tengah dua orang, Kota Mataram empat orang, dan Lombok Timur dua orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh.
“Masih banyak korban yang dirawat di luar rumah sakit dan puskesmas karena bangunan mengalami kerusakan,” ujar dia.
Hingga minggu malam, terjadi 47 kali gempa susulan dengan intensitas gempa yang lebih kecil.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) gempa ini adalah gempa utama (main shock) dari gempa yang rangkaian gempa sebelumnya yang terjadi Minggu, pekan lalu dengan kekuatan 6,4 SR.
“Jadi rumah yang sebelumnya sudah rusak menjadi lebih rusak dan bahkan roboh karena gempa dengan guncangan yang lebih besar ini,” ujar dia.
Menurut Sutopo, peringatan dini tsunami juga menyebabkan masyarakat makin panik dan trauma sehingga terjadi pengungsian di banyak tempat.
Diperkirakan jumlah korban akan terus bertambah mengingat pencarian korban baru bisa dilakukan pada malam hari dengan berbagai keterbatasan.
Kepala BNPB Willem Rampangilei mengatakan BPNB akan mendampingi pemerintah daerah melakukan penanganan darurat paska-gempa. Sebanyak dua unit helikopter dikirim untuk mendukung penanganan bencana.
Menurutnya, fokus saat ini adalah pencarian, penyelamatan dan pertolongan kepada masyarakat yang terdampak gempa serta pemenuhan kebutuhan dasar. Di pengungian, masyarakat membutuhkan tenaga medis, air bersih, makanan, selimut, tikar, tenda, makanan siap saji, layanan trauma healing dan kebutuhan dasar lainnya.
“Sekolah akan diliburkan terutama di Lombok Utara, Lombok Timur, dan Mataram. Khawatir bangunan sekolah roboh dan membahayakan siswa,” ujar dia.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam jumpa pers Minggu malam mengatakan pusat gempa relatif sama dengan guncangan pada Minggu pekan lalu. Yaitu pada 8,37 derajat Lintang Selatan (LS) dan 116,48 derajat Bujur Timur (BT) pada kedalaman 15 kilometer (km) berjarak 18 km timur laut Lombok Timur atau di lereng utara timur laut Gunung Rinjani.
Gempa ini menurutnya adalah gempa dangkal yang terjadi akibat pergerakan naik sesar Flores yang terjadi karena deformasi batuan ke atas.
Terjadi tsunami kecil pada tiga titik yaitu di Desa Carik setinggi 13,5 sentimeter (cm) Desa Badas 10 cm dan Desa Lembar 9 cm.
“Ini adalah gempa utama dari rangkaian gempa sebelumnya,” ujar dia.