24 Juli 2017•Update: 24 Juli 2017
Cansu Dikme
SAMSUN, Turki
Seorang anggota komite Deaflympics memfokuskan pada “kesetaraan” antara orang tunarungu dan orang normal dalam pertandingan ke-23 yang dimulai awal pekan ini di Laut Hitam, provinsi Samsun.
Dalam wawancara eksklusif dengan Anadolu Agency, Hasan Dikyuva menjelaskan budaya tuli di antara orang-orang yang cacat pendengaran. Dikyuva yang juga seorang ahli di Federasi Olahraga Nasional Turki, mendekripsikan budaya tuli sebagai “lingkungan yang sunyi”.
Sebagai bagian dari persiapan untuk Samsun Games, 5.000 pekerja dan sukarelawan diberi instruksi bahasa isyarat untuk menyambut para atlet tunarungu
“Komunitas yang berbicara tidak bisa hadir berdampingan dengan komunitas tunarungu. Mereka cemas, bahkan kadangkali kaget. Ketika kami menjelaskan bahwa orang-orang tunarungu memiliki budaya mereka sendiri, mereka terbiasa dengan budaya tersebut seiring berjalannya waktu,” jelas Dikyuva.
Dikyua mendesak kelompok mayoritas untuk “berempati“ dengan orang-orang tunarungu.
“Ketika komunitas berbicara mempelajari bahasa isyarat, mereka akan mendapat wawasan tentang orang-orang tunarungu dan mereka akan melihat identitas yang dimiliki orang-orang di lapangan,” tambahnya.
Persiapan Deaflympics terbesar yang pernah ada di Samsun ini melalui proses yang sulit dan memakan waktu lama. Dikyuva menyebut hasil di bidang teknis sebagai kelas dunia.
Turki menghabiskan 450 juta lira (127 juta dolar) untuk membangun 42 fasilitas di berbagai wilayah di provinsi di mana para atlet akan bertanding di 21 kategori, termasuk basket, sepak bola, renang, dan gulat.
Pertandingan pertama untuk atlet tunarungu yang dikenal sebagai Pertandingan Sunyi Internasional, diadakan pada 1924 di Paris, diikuti oleh partisipan dari 9 negara Eropa.
Dari permulaan yang sederhana, pertandingan terbaru yang telah berkembang menjadi organisasi olahraga terbesar ketiga di dunia ini dimulai Selasa di Samsun, diikuti lebih dari 3.000 atlet dari 97 negara. Pertandingan ini dijadwalkan berlangsung hingga 30 Juli.