Muhammad Latief
04 Oktober 2017•Update: 04 Oktober 2017
Muhammad Latief
JAKARTA
Bank Dunia melaporkan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia tidak bergerak positif meski kondisi eksternal mendukung pada triwulan ini.
Padahal, kata Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Rodrigo Chaves pada Rabu, tingkat konsumsi masyarakat merupakan penyumbang separuh Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
Hal ini terjadi, kata dia, salah satunya karena lonjakan inflasi sementara akibat penyesuaian tarif listrik pada paruh pertama 2017.
“Inflasi 4 persen tahun ini [namun] sekarang mereda, sesuai harapan Bank Indonesia,” kata dia.
Laporan Bank Dunia juga menyebutkan bahwa kemandegan konsumsi publik adalah “teka-teki yang memerlukan data dan analisis lebih lanjut”.
Salah satu kemungkinannya, kata dia lagi, situasi perekonomian Indonesia sedang menyesuaikan diri dengan reformasi. Sedangkan dampak positifnya butuh waktu untuk dirasakan secara nyata di lapangan.
Namun sisi postifnya Bank Dunia memprediksi pertumbuhan PDB riil tahun ini 5,1 persen dan diprediksi akan tumbuh positif hingga 5,3 persen pada tahun depan. Pertumbuhan PDB riil ini tetap stabil di angka 5,0 persen (year on year) pada kuartal kedua 2017, tidak berubah dari kuartal pertama.
Menurutnya pertumbuhan cukup kuat ini terjadi karena lingkungan eksternal kondusif, faktor fundamental ekonomi kuat, serta kemajuan reformasi struktural yang dilakukan pemerintah.
Selain itu kebijakan moneter juga mendukung, yakni dengan adanya penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia belum lama ini. Sementara dari sisi fiskal, perubahan terlihat menyusul revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2017.
Pemerintah, kata Rodrigo, juga berhasil mengubah komposisi belanja, dengan investasi infrastruktur yang lebih besar semester pertama tahun ini dibanding tahun lalu.
"Keterbatasan infrastruktur telah lama menjadi kendala utama bagi pembangunan Indonesia.”
Ekonom Utama Bank Dunia di Indonesia Frederico Gil Sander mengatakan, meski ada perbaikan pemerintah tetap perlu meningkatkan partisipasi sektor swasta dalam pembangunan infrastruktur.
Keterlibatan mereka, kata Frederico, akan membantu memenuhi kebutuhan infrastruktur Indonesia yang besar dengan lebih cepat dan efisien.