Iqbal Musyaffa
15 September 2020•Update: 15 September 2020
JAKARTA
Dalam penutupan pasar sore ini rupiah ditutup menguat 35 poin ke level Rp14.845 per dolar AS dari penutupan kemarin di level Rp14.890.
Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan dalam perdagangan hari Rabu besok, mata uang rupiah kemungkinan masih akan berfluktuasi namun di tutup menguat 20-40 poin di level Rp14.820-14.900 per dolar AS.
Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 1,18 persen atau 60,96 poin ke level 5.100.86 pada akhir sesi hari ini.
Ibrahim mengatakan salah satu faktor yang mendorong penguatan rupiah adalah neraca perdagangan Indonesia pada bulan Agustus yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik meraih surplus USD2,33 miliar.
“Ini adalah keempat kalinya secara berturut-turut neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus,” ujar Ibrahim.
Dia mengatakan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor Agustus sebesar USD13,07 miliar atau turun 4,62 persen dibanding Juli 2020 dan juga turun 8,36 persen dari Agustus tahun lalu.
Sementara impor pada Agustus 2020 tercatat USD10,74 miliar atau naik 2,65 persen dibandingkan dengan bulan Juli, sedangkan bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya turun drastis 24,19 persen.
Kemudian pada sisi eksternal, Ibrahim menilai investor sedang bernafsu memburu aset-aset berisiko karena ada kabar baik dari pengembangan vaksin anti Covid-19.
“Setelah sempat berhenti, uji coba vaksin AstraZaneca yang bekerja sama dengan Universitas Oxford sudah dilanjutkan kembali,” lanjut dia.
Ibrahim mengatakan ada perkembangan positif dari pengembangan vaksin anti-virus korona yang membantu mengangkat persepsi pelaku pasar.
Dia juga mengatakan pasar terus memantau perkembangan tentang Brexit, setelah pemerintah Inggris telah memenangkan pemungutan suara awal di parlemen atas tagihan kontroversialnya yang melanggar kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa.
Investor juga melihat pertemuan kebijakan bank sentral di Amerika Serikat pada hari Rabu dan di Jepang serta Inggris pada hari Kamis.
“Secara khusus, pertemuan Federal Reserve minggu ini akan menjadi yang pertama sejak Ketua Jerome Powell mengumumkan pergeseran ke arah toleransi yang lebih besar terhadap inflasi dan secara efektif berjanji untuk mempertahankan suku bunga rendah lebih lama,” lanjut Ibrahim.
Dia mengatakan proyeksi dari pembuat kebijakan Fed bahwa inflasi akan tetap di bawah 2 persen dalam perkiraan ekonomi mereka, yang akan diperpanjang hingga 2023 dapat memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap rendah untuk jangka waktu yang lama.