Muhammad Nazarudin Latief
03 Mei 2018•Update: 03 Mei 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Pertamina menyerahkan deviden 2017 sebesar Rp8,57 triliun pada pemerintah dari perolehan laba tahun ini. Setoran ini lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp12,1 triliun.
Plt Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan Pertamina menghadapi tahun yang penuh tantangan. Profil keuangan perseroan masih dipengaruhi oleh tren kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan kurs rupiah terhadap dolar.
“Sepanjang 2017, perusahaan terdampak dinamika harga minyak dunia. Kami meningkatkan efisiensi di segala lini, sehingga Pertamina tetap dapat mencatatkan kenaikan pendapatan perseroan,” jelas Nicke dalam keterangan resminya, Rabu.
Pendapatan Pertamina dilaporkan juga naik naik 18 persen, menjadi USD42,96 miliar, dibandingkan pendapatan audit 2016 sebesar USD36,49 miliar. Pertumbuhan pendapatan dipicu oleh naiknya penjualan minyak mentah dan produk baik di dalam negeri maupun ekspor.
Secara umum, secara umum kinerja operasional perusahaan membukukan pertumbuhan. Yakni, naiknya produksi migas sekitar 7 persen, dari 650 MBOEPD (ribu barel minyak ekuivalen per hari) pada 2016 menjadi 693 MBOEPD pada 2017.
Pertumbuhan hulu migas ini dipengaruhi oleh produksi dari Banyu Urip dan naiknya produksi ladang luar negeri Pertamina.
Pertamina juga mengklaim mampu meningkatkan produksi panas bumi (geothermal) menjadi 3.900 GWh, atau naik 27 persen dibanding 2016 sebesar 3.043 GWh. Hal ini disebabkan beroperasinya PLTP Ulubelu Unit 3 dan Unit 4, serta Kamojang.
Pada pengolahan minyak, Pertamina menyebut berhasil menjaga kinerjanya dengan hasil produk bernilai tinggi (yield valuable product) meningkat 1 persen menjadi 78,1 persen pada 2017. Sementara pada 2016 sebesar 77,7 persen. Volume produk bernilai tinggi (volume valuable product) menjadi 253,4 MMBbl (juta barel) pada 2017.
Sedangkan pada sektor pemasaran, volume penjualan konsolidasi tercermin penurunan tipis 1 persen, dari 86,84 juta KL pada 2016 menjadi 85,88 juta KL pada 2017. Dari total volume tersebut, volume Premium Penugasan dan Jawa Madura Bali (Jamali) pada 2017 mengontribusi 12,31 juta KL, naik 12 persen dari periode sebelumnya. Sedangkan, penjualan LPG PSO naik 2% menjadi 11,21 juta KL.
“Tahun 2018 juga akan menjadi tahun yang penuh tantangan bagi Pertamina,” ujar Nicke.