İqbal Musyaffa
15 November 2019•Update: 18 November 2019
JAKARTA
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia meraih surplus dalam neraca perdagangan selama b ulan Oktober sebesar USD161,3 juta.
Surplus tersebut berasal dari nilai ekspor sebesar USD14,93 miliar dan impor USD 14,77 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus ini menjadi yang keenam kalinya diraih Indonesia pada tahun ini sejak Januari lalu.
Indonesia tercatat meraih surplus perdagangan pada Februari sebesar USD0,33 miliar, Maret USD0,67 miliar, Mei USD0,22 miliar, Juni USD0,3 miliar, Agustus USD0,11 miliar, dan Oktober USD0,16 miliar.
Di luar enam bulan tersebut, selama empat bulan perdagangan Indonesia mengalami defisit.
Indonesia menderita defisit neraca perdagangan pada bulan Januari sebesar USD1,06 miliar, April USD2,29 miliar, Juli USD0,06 miliar, dan September sebesar USD0,16 miliar.
“Namun, defisit perdagangan yang diderita sebanyak 4 kali sejak Januari memiliki nilai yang lebih besar,” kata Suhariyanto, dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.
“Sepanjang Januari-Oktober tahun ini, Indonesia mengalami defisit dalam neraca perdagangan sebesar USD1,79 miliar,” ungkap Suhariyanto.
Meski begitu, berdasarkan data BPS jumlah defisit dalam 10 bulan pada tahun ini lebih rendah dari defisit 10 bulan pertama tahun lalu yang mencapai USD5,57 miliar.
Masih ada dua bulan tersisa, yakni November dan Desember.
Dengan sisa waktu laporan neraca perdagangan selama dua bulan lagi pada tahun ini, BPS memperkirakan defisit perdagangan Indonesia tahun ini lebih kecil dari defisit perdagangan tahun lalu yang sebesar USD8,7 miliar.