İqbal Musyaffa
26 Agustus 2019•Update: 26 Agustus 2019
JAKARTA
Kementerian Keuangan mengatakan penerimaan negara hingga akhir Juli masih lesu akibat lesunya perekonomian global akibat perang dagang.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan perang dagang membuat permintaan terhadap produk-produk Indonesia melemah, ditambah dengan turunnya harga-harga komoditas andalan ekspor.
Dia menjelaskan total penerimaan negara hingga Juli sebesar Rp1.052,8 triliun atau 48,6 persen dari target Rp2.165,1 triliun.
Penerimaan negara masih tumbuh tipis 5,9 persen dari realisasi per Juli 2018 yang berjumlah Rp994,6 triliun.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, jumlah pertumbuhan penerimaan negara pada Juli tahun ini tidak sebesar tahun lalu yang mampu tumbuh 16,5 persen.
“Ini mengkonfirmasi kondisi ekonomi kita yang mengalami tekanan dari eksternal dan juga harga komoditas,” jelas Menteri Sri Mulyani, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Dia menegaskan tekanan dalam penerimaan negara sangat nyata yang terlihat dari jumlah pajak dan bea yang masuk.
Penerimaan perpajakan hingga Juli mencapai Rp810,7 triliun atau hanya tumbuh 3,9 persen dari periode yang sama tahun lalu. Penerimaan perpajakan pada tahun lalu masih dapat tumbuh 14,6 persen.
Kemudian penerimaan negara bukan pajak (PNBP) hingga Juli mampu terkumpul Rp241,3 persen dan tumbuh 14,2 persen dari tahun lalu.
Meskipun tumbuh, namun pertumbuhannya tidak melampaui tahun lalu yang mampu tumbuh 22,7 persen
Lambannya pertumbuhan PNBP salah satunya akibat dari pendapatan SDA yang turun 5,5 persen dari Rp89,1 triliun pada tahun lalu menjadi ke Rp87,3 triliun.
Menurut dia, penurunan ini terutama dari batubara dan migas karena rata-rata harganya lebih rendah dari 2018.
Harga minyak pada Juli tahun ini sebesar USD62 per barel sementara tahun lalu USD67 per barel sementara harga batubara pada Juli tahun ini USD82 dolar per ton sementara pada Juli tahun lalu USD99 per ton.
Penerimaan negara lainnya berasal dari hibah yang terkumpul hingga Juli sebesar RpRp0,8 triliun atau tumbuh negatif 75,7 persen dari periode yang sama tahun lalu dengan jumlah Rp3,3 triliun.
“Sejak Juni sudah menunjukkan penerimaan lebih rendah dari sebelumnya,” ungkap Menteri Sri Mulyani.