Muhammad Latief
JAKARTA
Neraca perdagangan Indonesia kembali mengalami defisit sebesar USD1,02 miliar pada Agustus, ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto, Senin.
Menurut Suhariyanto, defisit terjadi karena nilai ekspor lebih kecil dari pada impor yaitu USD15,82, sementara nilai impor mencapai USD16,84 miliar.
Meski demikian, kata Suhariyanto, nilai impor menurun 7,97 persen dibanding bulan Juli.
“Penurunan ekspor terjadi pada sektor migas maupun non-migas” ujar Suhariyanto saat konferensi pers di Jakarta.
Dari Januari hingga Agustus, sudah enam kali neraca perdagangan Indonesia defisit, yaitu pada Januari sebesar USD760 juta, Februari USD50 juta, kemudian April USD1,63 miliar, Mei USD1,45 miliar dan Juli sebesar USD2,01 miliar.
Secara kumulatif hingga Agustus, nilai ekspor sebenarnya naik dari USD108,79 miliar menjadi USD120,1 miliar. Namun, impor tetap lebih tinggi, yaitu USD124,18 miliar.
Dengan demikian, defisit dalam periode tahun berjalan sudah mencapai USD4,09 miliar, ujar Suhariyanto.
Ekspor dan impor turun
Penurunan ekspor migas turun 3,27 persen secara bulanan dari USD1,43 miliar menjadi USD1,38 miliar yang didominasi sektor gas.
Ekspor non-migas turun 2,86 persen dari USD14,86 miliar menjadi USD14,43 miliar. Penurunan ekspor non-migas terbesar terjadi pada sektor pertambangan dan lainnya sebesar -13,58 persen menjadi USD2,35 miliar.
"Ini terjadi karena ada penurunan ekspor batu bara dan bijih tembaga," kata dia.
Ekspor nonmigas terbesar adalah ke Tiongkok yaitu USD2,11 miliar, disusul Amerika Serikat USD1,60 miliar dan Jepang USD1,48 miliar.
Sementara ekspor ke Uni Eropa dengan anggota 28 negara sebesar USD1,5 miliar, ujar Suhariyanto.
Tapi ekspor ke Jepang tercatat turun sebesar USD108,6 juta. Selain itu China juga turun USD83,5 juta, dan Korea tergerus USD75,3 juta.
“Kontribusi tiga negara tujuan ekspor utama kita mencapai 35,95 persen dari total ekspor,” ujar dia.
Kontribusi ekspor dari sektor industri pengolahan juga turun 0,48 persen menjadi USD11,78 miliar. Namun, kata dia, sektor pertanian masih tumbuh positif 0,42 persen menjadi USD300 juta.
Peningkatan ekspor tercatat paling besar ke Spanyol dengan nilai mencapai USD50,8 juta, Malaysia USD50,4 juta, dan Amerika Serikat USD38,8 juta.
Pada sisi impor, kata Suhariyanto, tercatat menurun pada semua kategori barang.
Menurut dia, Barang konsumsi turun 9,2 persen, bahan baku/bahan penolong turun 7,6 persen, barang modal turun 8,9 persen. Total impor turun -7,9 persen menjadi USD16,8 miliar.
Penurunan impor barang baku/penolong terjadi karena ada penurunan impor emas dari Singapura, gandum, dan kapas dari AS, kata Suhariyanto.
Impor modal karena ada penurunan hard disk dari China, tambah dia.
Penurunan impor tertinggi berasal dari China sebesar USD315,2 juta, Jepang USD290,3 juta, dan AS menciut USD226,6 juta.
Sedangkan peningkatan impor berasal dari Brazil senilai USD53,2 juta, Selandia Baru USD22,9 juta, dan India USD21,6 juta.
Impor tertinggi tetap berasal dari China senilai USD28,78 miliar atau 27,56 persen dari total impor.
Kemudian Jepang sebanyak USD11,98 miliar atau 11,47 persen dari total ekspor dan Thailand USD7,29 miliar atau 6,98 persen dari total ekspor.