İqbal Musyaffa
25 September 2019•Update: 26 September 2019
JAKARTA
Kementerian Keuangan menargetkan defisit APBN 2020 hanya 1,76 persen dari PDB atau sejumlah Rp307,2 triliun.
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan target defisit tersebut menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, defisit anggaran tersebut berasal dari pendapatan negara 2020 yang ditetapkan sebesar Rp2.233,2 triliun, lebih besar dari target pendapatan dalam RAPBN sebesar Rp2.221,5 triliun.
Target pendapatan negara tersebut terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp1.865,7 triliun, penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp367 triliun, dan penerimaan hibah sebesar Rp500 miliar.
Kemudian belanja negara pada 2020 sebesar Rp2.540,4 triliun atau naik dari target belanja dalam RAPBN sebesar Rp2.528,8 triliun.
Belanja negara 2020 terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.683,5 triliun dan transfer ke daerah serta dana desa sebesar Rp856,9 triliun.
Selain itu, keseimbangan primer pada 2020 ditargetkan sebesar Rp12 triliun dan pembiayaan anggaran Rp307,2 triliun.
Dalam APBN 2020 ditetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3 persen dan inflasi 3,1 persen dengan nilai tukar Rp14.400 per dolar AS.
Kemudian asumsi makro lainnya yang telah ditetapkan dalam APBN 2020 ialah suku bunga SPN sebesar 5,4 persen, harga minyak dunia USD63 per barel, lifting minyak 755 ribu barel perhari, dan lifting gas 1,191 juta barel per hari.