Iqbal Musyaffa
18 Agustus 2020•Update: 18 Agustus 2020
JAKARTA
Sepanjang tahun 2020 hingga bulan Juli Indonesia telah meraih surplus dalam neraca perdagangan sebesar USD8,75 miliar berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan surplus tersebut terbentuk dari total ekspor Indonesia sebesar USD90,12 miliar sementara impor USD81,37 miliar.
Dia mengatakan surplus ini lebih besar daripada yang diraih pada periode yang sama tahun lalu karena pada saat itu terjadi defisit sebesar USD2,15 miliar.
“Walaupun secara surplus lebih baik dari tahun lalu, namun total ekspor dan impor hingga Juli tahun ini lebih rendah dari tahun lalu,” kata Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Selasa.
Dia mengatakan pada tahun lalu hingga Juli total ekspor Indonesia mencapai USD96,09 miliar atau masih lebih besar 6,21 persen dari total ekspor pada tahun ini.
Sementara itu, total impor pada periode yang sama tahun lalu sebesar USD98,24 miliar atau 17,17 persen lebih besar dari impor tahun ini.
Suhariyanto mengatakan sepanjang 2020 hingga Juli, total ekspor nonmigas Indonesia berasal dari bahan bakar mineral sebesar USD10,63 miliar atau 12,44 persen dari total ekspor.
Kemudian, ekspor terbesar juga berasal dari lemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD10,62 miliar atau 12,43 persen.
“Untuk impor terbesar pada tahun ini hingga Juli berasal dari mesin dan peralatan mekanis sebesar USD12,52 miliar atau 17,18 persen dari total impor,” jelas Suhariyanto.
Impor terbesar selanjutnya berasal dari mesin dan perlengkapan elektrik sebesar USD10,36 miliar atau 14,21 persen.
Selanjutnya, Suhariyanto mengatakan berdasarkan negara, China masih menjadi negara tujuan ekspor nonmigas terbesar pada tahun ini hingga Juli dengan total ekspor mencapai USD15,35 miliar atau 17,96 persen dari total ekspor nonmigas.
Selanjutnya, tujuan ekspor nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia adalah Amerika Serikat sebesar USD10,2 miliar atau 11,94 persen, dan Jepang di posisi ketiga dengan jumlah USD7,34 miliar atau 8,59 persen.
Kemudian untuk negara asal impor nonmigas Indonesia yang terbesar juga berasal dari China dengan total USD21,36 miliar atau 29,31 persen dari total impor nonmigas.
Asal negara tujuan impor terbesar kedua bagi Indonesia adalah Jepang sebesar USD6,75 miliar atau 9,26 persen, dan ketiga adalah Singapura dengan USD4,86 miliar atau 6,66 persen.