Indonesia pasar menggiurkan produsen pesawat jet Brasil
Produsen pesawat asal Brasil, Embraer, menyebut pengguna jet bisnis mereka bukan dari kalangan konglomerat, namun perusahaan-perusahaan besar
Jakarta
Megiza Asmail
JAKARTA
Jumlah pulau di Indonesia yang mencapai lebih dari 17 ribu dan luas wilayah geografis yang mencapai angka 1,9 juta kilometer persegi disebut Senior Sales Director Indonesia Embraer Executive Jets Manfred Baudzus, menjadi penyebab perusahaan jet asal Brasil ini kian berekspansi di Indonesia.
“Saat ini Indonesia pasar terpenting di wilayah [Asia Tenggara] karena memiliki ribuan pulau dan wilayah yang sangat luas,” kata Baudzus di Jakarta, Senin.
Dia membeberkan, untuk kawasan Asia Pasifik, Indonesia berada di peringkat ketiga dalam jajaran pasar pesawat jet bisnis Embraer. Tiongkok duduk di posisi teratas dengan pasokan jet dari Embraer sebanyak 29 unit. Di belakangnya, ada India dengan 22 armada, kemudian Indonesia dengan 15 pesawat jet untuk pribadi dan carter.
“Di belakang Indonesia mengikuti Filipina, Thailand dan Malaysia,” kata Baudzus.
Lebih jelas lagi, dia menyebut, saat ini Embraer telah menyebar produk jet mereka di kawasan Asia Pasifik sebanyak 90 pesawat. Di Indonesia sendiri, produsen jet yang awalnya merakit pesawat militer ini, menyebar enam tipe andalannya.
Keenam tipe tersebut di antaranya Phenom 300, Legacy 500, E135 Shuttle, Legacy 600 dan 650 dan juga satu pesawat jet terbesar milik Embraer yakni Lineage 1000. Di antara enam jenis jet itu, Vice President Sales Middle East and Asia Pacific Embraer Claudio Camelier, mengatakan tipe Legacy 600 yang paling banyak diminati di Indonesia.
“Market Embraer bisnis jet ini dimulai pada 2002. Pada tahun 2002 sampai 2005 kami hanya punya satu produk. Tapi pada 2006 kami melakukan ekspansi global. Salah satunya ke Indonesia. Jet pertama yang kami kirim ke Indonesia adalah Legacy 600, yang sekarang sudah menjadi kian modern lewat tipe Legacy 650,” kata Camelier.
Bicara soal harga, Camelier memaparkan, bahwa unit jet Embraer dijual dengan kisaran harga mulai dari USD 4,5 juta hingga USD 53 juta. Sedangkan untuk model Legacy 600 dan 650 yang banyak diminati pasar Indonesia, dijual oleh perusahaan yang berdiri sejak 1969 ini dengan harga sekitar USD 25,9 juta.
“Legacy 650 ini dapat memuat 13-14 penumpang. Dibuat dengan tiga zona kabin dan kenyamanan premium. Sistem navigasi yang digunakan juga sudah modern, dan pesawat ini punya kemampuan terbang dengan jarak hingga 7.223 kilometer,” ujarnya.

Meski memiliki harga fantastis, Embraer mengklaim target konsumennya bukanlah dari kalangan konglomerat. Bahkan, dalam daftar pasar global Embraer, kepemilikan jet pribadi oleh taipan ada di urutan terbawah.
“Ada miskonsepsi soal bisnis aviasi yang dianggap hanya untuk orang berduit. Itu tidak benar. Karena bisnis ini sebenarnya banyak digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan mobilitas orang-orang penting dalam sebuah perusahaan. Mereka mendapatkan privasi, keamanan sekaligus konektivitas,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, 350 pesawat Embraer yang tersebar di 17 negara saat ini, 65 persen di antaranya dioperasikan untuk keperluan perusahaan-perusahaan besar, 10 persen digunakan untuk pesawat carter, dan sisanya untuk urusan pemerintah, konglomerat, dan lain sebagainya.
Untuk pasar Indonesia, Embraer salah satunya bekerja sama dengan Premiair, yang bernaung di bawah PT Ekspres Transportasi Antarbenua. Presiden Direktur Premiair Tony D Hadi mengatakan, rata-rata jam terbang lima unit Embraer yang dipegang oleh Premiair adalah 30-40 jam per bulan.
“Memang tergantung low atau high seasons juga. Transaksi 30-40 jam itu tentu tidak sama dengan jadwal airlines komersial. Sedangkan untuk lalu lintas penerbangan, 50-50 untuk di dalam dan ke luar negeri,” kata Tony.
Ditanya soal harga untuk men-carter satu unit Embraer yang dioperasikan oleh Premiair, Tony menyebut harga yang cukup fantastis untuk penggunaan per jamnya. “USD 10 ribu untuk satu jam perjalanan,” ujarnya.
