Muhammad Latief
JAKARTA
Pebisnis Indonesia meminta para pengusaha Malaysia melibatkan mereka dalam hilirisasi industri kelapa sawit, bukan sekadar menempatkan perkebunannya di lahan-lahan di Sumatera atau Kalimantan.
Ketua Indonesia - Malaysia Business Council (IMBC) Tantri Abeng mengatakan Malaysia kini sudah menguasai industri kepala sawit, baik dari sisi produksi hingga pemasaran internasional. Namun, mereka tidak mengajak pengusaha Indonesia, sehingga tertinggal pada kedua aspek tersebut.
“Sekarang berat sebelah, Malaysia sudah dominasi industri sawit. Tapi tidak mengajak pengusaha Indonesia, mestinya diajak agar bermitra,” ujar Abeng saat menggelar konferensi pers usai bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia di Jakarta, Jumat.
Indonesia menurut Abeng memang mendapatkan keuntungan dari perkebunan sawit milik pengusaha Malaysia, namun terlambat membangun industri berbasis sawit. Nilai tambah produk ini, menurut Abeng jatuh ke tangan negara tersebut.
“Dulu BUMN menguasai sekitar 38 persen produksi CPO (crude palm oil) sekarang tinggal 7-8 persen. Jumlah yang berkurang itu diambil Malaysia,” ujar dia.
Seharusnya, pengusaha Indonesia bisa masuk ke Malaysia dan ikut dalam hilirisasi industri sawit.
“Kondisi itu saya laporkan pada Tun Mahatir.”
Indonesia sendiri merupakan rekan dagang Malaysia terbesar ketujuh dalam lingkup global dan ketiga terbesar di ASEAN. Pada 2017, nilai perdagangan kedua negara mencapai RP255,9 triliun, naik 22 persen dari tahun sebelumnya.
Menurut Abeng, IMBC didirikan 15 tahun lalu dengan tiga tujuan utama. Yaitu menarik investor Malaysia masuk ke Indonesia, kemudian mengupayakan investor Indonesia menanamkan modalnya di Malaysia dan membentuk aliansi bisnis untuk menguatkan penetrasi pasar kedua negara di pasar mancanegara.
Dari tiga tujuan tersebut, Abeng menilai baru tujuan pertama yang tercapai. Sedangkan investasi Indonesia di Malaysia tidak ada penambahan berarti, sementara aliansi bisnis juga tidak terbangun.
“Pengusaha Indonesia belum masuk Malaysia. Ini karena senioritas dan kapital serta kemampuannya yang lebih rendah,” ujar dia.
Menurut Abeng, Mahatir Muhammad berkomitmen untuk kembali merintis aliansi bisnis di antara kedua negara. Komoditas yang paling potensial adalah kelapa sawit, terutama untuk menghadapi tekanan pasar dari Eropa dan Amerika.
Selain sawit, produk yang mempunyai pasar menjanjikan adalah pupuk, apalagi lima negara ASEAN pernah berpengalaman patungan untuk membangun industri ini.
Menurut Abeng, kepemimpinan Mahatir ideal untuk pengembangan bisnis. Sosoknya kuat dan nasionalistis sehingga bisa mendorong pembangunan kekuatan bisnis Malaysia-Indonesia untuk agar lebih kuat saat masuk ke pasar internasional.
“Bisnis itu power, kalau terlalu kecil maka kita akan kalah. Karena itu yang kecil-kecil dijadikan holding. Tun Mahatir paham sekali soal itu,” ujar dia.
news_share_descriptionsubscription_contact

