Muhammad Latief
JAKARTA
Menteri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukito dan Menteri Perdagangan Australia Steven Ciobo sepakat untuk menurukan tarif impor untuk berbagai komoditas penting.
Indonesia akan menurunkan tarif impor gula (raw sugar) dari delapan persen menjadi lima persen, sedangkan Australia menghilangkan tarif untuk herbisida dan pestisida asal Indonesia.
“Ini win-win agreement. Mencakup kerjasama ekonomi dan peningkatan kapasitas,” ujar Menteri Enggar di Jakarta, Rabu.
Penurunan tarif masuk gula asal Australia, kata Menteri Enggar, akan membuat pasar impor gula menjadi lebih kompetitif. Indonesia bisa leluasa memillih negara asal impor gula.
Selama ini, impor gula didominasi Thailand yang sudah terlebih dahulu menikmati bea masuk rendah, yakni hanya sebesar lima persen.
“Ini penting untuk menghilangkan ketergantungan (impor gula) dari satu negara saja.”
Sedangkan produk persisida herbisida, Indonesia bisa memasang tarif yang lebih rendah untuk memenuhi kebutuhan Australia.
Tiap tahun, negara ini mengimpor produk kimia tersebut senilai AUD 400 juta, sedangkan Indonesia baru bisa menyuplai AUD 230 juta.
“Penurunan tarif ini diharapkan bisa meningkatkan ekspor ke sana (Australia).”
Kesepakatan ini merupakan bagian dari negosiasi Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia Australia (Indonesia Australia–Comprehensive Economic Partnership Agreement).
Kedua menteri telah bertemu sebanyak 17 kali, dan berharap negosiasi rampung sebelum putaran terakhir digelar di Australia pada Desember mendatang.
Ciobo mengatakan, pemotongan bea masuk merefleksikan komitmen yang kuat kedua negara untuk menyelesaikan perundingan tersebut.
Dia menyebut, Australia memandang Indonesia sebagai negara penting karena pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan tiap tahun dan pengaruhnya di kawasan Asia yang kian membesar.