Iqbal Musyaffa
15 Januari 2020•Update: 15 Januari 2020
JAKARTA
Impor Indonesia pada bulan Desember berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan baik secara bulanan ataupun tahunan.
Pada Desember 2019 impor Indonesia sebesar USD14,5 miliar, turun 5,47 persen dari November 2019 yang sebesar USD15,34 miliar dan juga turun 5,62 persen dari Desember tahun 2018 yang sebesar USD15,37 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan pola penurunan impor pada Desember ini mirip dengan yang terjadi pada Desember 2018 dan 2017.
“Impor seluruh golongan barang mengalami penurunan secara bulanan,” jelas Suhariyanto di Jakarta, Rabu.
Dia menjelaskan impor barang konsumsi pada Desember sebesar USD1,65 miliar, turun 1,32 persen secara bulanan, namun tumbuh 12,18 persen secara tahunan.
“Impor barang konsumsi yang turun antara lain tenda dan jam tangan,” kata dia.
Selain itu, impor bahan baku/penolong pada Desember sebesar USD10,4 miliar turun 6,83 persen secara bulanan dan juga turun 7,27 persen secara tahunan.
Selanjutnya, impor barang modal sebesar USD2,45 miliar tercatat turun 2,16 persen secara bulanan dan juga turun 8,47 persen secara tahunan.
“Impor barang modal yang turun antara lain sistem komunikasi, sistem generator, dan alat-alat komunikasi,” ujar Suhariyanto.
Berdasarkan golongan barang, terjadi peningkatan impor pada gula dan kembang gula sebesar USD89,1 juta, buah-buahan USD64,3 juta, dan sayuran USD52,6 juta.
“Kenaikan impor buah-buahan seperti apel, jeruk mandarin, pir, dan anggur mungkin persiapan imlek,” ungkap dia.
Sementara itu, terjadi penurunan impor pada golongan barang kendaraan dan bagiannya sebesar USD254,7 juta, mesin dan perlengkapan elektrik USD228,7 juta, dan besi serta baja USD159,8 juta.
Suhariyanto menambahkan bila dilihat berdasarkan negara asal impor, terjadi peningkatan impor asal Italia sebesar USD47,4 juta, Oman USD29,5 juta, dan Bulgaria USD28,8 juta.
Kemudian terjadi penurunan impor pada Desember 2019 yang berasal dari Australia sebesar USD188 juta, Jepang USD148,3 juta, dan China USD123 juta.