JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja ekspor Indonesia pada Desember 2019 sebesar USD14,47 miliar.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan angka ekspor tersebut tumbuh 3,77 persen secara bulanan bila dibandingkan ekspor November 2019 yang sebesar USD13,95 miliar.
Begitupun bila dibandingkan dengan Desember tahun lalu, nilai ekspor pada Desember tahun ini juga tumbuh 1,28 persen dari nilai USD14,29 miliar.
Dia mengatakan ada kenaikan harga palm oil sebesar 12,67 persen dan karet 3,76 persen sehingga memengaruhi nilai ekspor Indonesia.
“Pola ekspor Desember ini berbeda dari Desember pada dua tahun sebelumnya yang justru meningkat,” kata Suhariyanto di Jakarta, Rabu.
Pada Desember 2018 ekspor pada Desember yang sebesar USD14,29 miliar turun dari ekspor pada November yang sebesar USD14,85 miliar. Pada Desember 2017 juga terjadi hal yang sama dengan nilai ekspor Desember yang sebesar USD14,86 miliar turun dari ekspor November yang sebesar USD15,33 miliar.
Ekspor Indonesia untuk seluruh sektor mengalami peningkatan secara bulanan pada Desember, seperti sektor pertanian yang mengalami pertumbuhan 10,24 persen secara bulanan dengan nilai ekspor USD0,37 miliar.
“Dibandingkan November 2019, ada beberapa komoditas pertanian yang naik signifikan seperti buah-buahan tahunan, hasil hutan bukan kayu, tanaman aromatik dan rempah-rempah, serta mutiara hasil budidaya,” jelas dia.
Bila dibandingkan dengan Desember 2018, ekspor pertanian juga meningkat 24,35 persen seperti yang terjadi pada komoditas sarang burung walet, buah-buahan tahunan, hasil hutan bukan kayu, dan biji kakao.
Selanjutnya, ekspor migas pada Desember sebesar USD1,16 miliar tumbuh 12,09 persen secara bulanan namun turun 31,93 persen secara tahunan.
Kemudian ekspor dari industri pengolahan yang sebesar USD10,86 miliar tumbuh 2,57 persen secara bulanan akibat kenaikan ekspor minyak kelapa sawit, pakaian jadi, konveksi dan tekstil, minyak kelapa, dan kimia dasar organik. Secara tahunan ekspor industri pengolahan juga tumbuh 6,85 persen.
Pada ekspor sektor pertambangan yang sebesar USD2,08 miliar tumbuh 4,71 persen secara bulanan seperti yang terjadi pada komoditas bijih tembaga, bijih logam lainnya, aspal, dan batu krikil. Sementara secara tahunan ekspor sektor ini turun 1,91 persen.
“Berdasarkan golongan barang, terjadi peningkatan ekspor pada beberapa komoditas,” kata Suhariyanto.
Peningkatan ekspor terjadi pada golongan barang lemak dan minyak hewani/nabati sebesar USD422,7 juta, bijih, terak, dan abu logam sebesar USD113,7 juta, dan pakaian dan aksesorinya sebesar USD75 juta.
Sementara itu, terjadi penurunan ekspor untuk kelompok barang kendaraan dan bagiannya sebesar USD129,5 juta, mesin dan perlengkapan elektrik USD78,2 juta, dan logam mulia, perhiasan, dan permata USD58,5 juta.
Suhariyanto juga mengatakan berdasarkan negara tujuan ekspor, terjadi peningkatan ekspor tujuan Amerika Serikat sebesar USD192,1 juta, India USD95,1 juta, dan Malaysia USD81,4 juta.
Kemudian terjadi penurunan ekspor untuk tujuan Thailand sebesar USD111,7 juta, China USD101,2 juta, dan Singapura USD89,8 juta.