Iqbal Musyaffa
JAKARTA
International Monetary Fund (IMF) mengingatkan negara ASEAN agar mengelola ketidakpastian ekonomi global lewat perbaikan prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Managing Director IMF Christine Lagarde mengatakan negara-negara ASEAN saat ini telah membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat, sehingga dapat mengatasi krisis keuangan global tahun 2008 serta kebijakan tapering off AS pada 2013.
“Sebagian besar negara di kawasan ini telah memperbaiki framework kebijakan mereka,” ungkap Lagarde di Jakarta, Selasa.
Perbaikan kebijakan yang dilakukan negara-negara ASEAN antara lain perbaikan peraturan fiskal di Indonesia, Malaysia, dan Vietnam, serta pengadopsian target inflasi di Indonesia, Filipina, dan Thailand.
“Secara lebih luas, ini juga melibatkan penguatan kebijakan keuangan dan memungkinkan fleksibilitas nilai tukar di seluruh wilayah,” imbuh dia.
Meski begitu, Lagarde juga mengingatkan bahwa volatilitas pasar keuangan menjadi pengingat bahwa transisi ekonomi mendasar sedang berlangsung.
Pembuat kebijakan di seluruh dunia termasuk di ASEAN, menurut dia, sedang bersiap untuk menghadapi normalisasi kebijakan moneter secara bertahap di negara-negara maju.
“Pembuat kebijakan di ASEAN perlu tetap waspada tentang kemungkinan dampak ketidakpastian ekonomi global pada stabilitas keuangan, termasuk prospek arus modal yang mudah berubah,” tambah Lagarde.
Manfaatkan momentum pertumbuhan
Pemerintah negara-negara ASEAN, menurut dia, dapat menggunakan momentum pertumbuhan yang lebih kuat saat ini untuk memperkuat kerangka kebijakan mereka.
Negara-negara ASEAN, lanjut dia, juga perlu mereformasi pasar keuangan, meningkatkan undang-undang ketenagakerjaan, dan mengurangi hambatan untuk masuk ke industri yang terproteksi.
Para negara-negara ASEAN, menurut Lagarde, dapat mereformasi fiskal untuk menghasilkan pendapatan masyarakat yang lebih tinggi dan memperbaiki kualitas pengeluaran.
“Dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, negara dapat meningkatkan investasi infrastruktur dan belanja pembangunan, terutama pada jaring pengaman sosial yang paling rentan,” ujar dia.
Lagarde mengatakan, analisis IMF terbaru menunjukkan bahwa peningkatan jangkauan dan kualitas ekspor suatu negara dapat menyebabkan pertumbuhan PDB yang lebih tinggi secara signifikan serta stabilitas ekonomi yang lebih besar.
“Mereka (negara ASEAN) menyadari kebutuhan akan model pertumbuhan baru yang memberi penekanan lebih besar pada permintaan domestik, perdagangan regional, dan diversifikasi ekonomi,” tambah dia.
IMF juga melihat sudah banyak negara di ASEAN telah berhasil mengalihkan sebagian besar sumber daya mereka ke area dengan tingkat produktivitas tinggi, seperti dari pertanian ke produksi industri.
“Tapi ini tidak cukup. Agar berkelanjutan, model pertumbuhan baru juga harus lebih inklusif,” ungkap Lagarde.
Dorong ekonomi inklusif
Penelitian IMF terbaru juga menunjukkan bahwa ketika manfaat pertumbuhan dibagi lebih luas, maka pertumbuhan akan lebih kuat dan tahan lama.
Sebagian besar negara ASEAN menurut Lagarde, sudah berada pada posisi perekonomian yang relatif kuat, karena mereka telah menggunakan kebijakan khusus untuk membantu mengurangi ketimpangan pendapatan selama tiga dekade terakhir.
Dia mencontohkan Thailand sudah memperkenalkan cakupan kesehatan universal pada 2001. Kemudian, Filipina sudah meluncurkan kebijakan transfer tunai bersyarat pada 2008.
Indonesia juga dianggap sukses dalam memperbaiki cara pemberian bantuan sosial nontunai kepada kelompok berpenghasilan rendah dengan menggunakan kartu elektronik.
“Semua anggota ASEAN dapat membangun prestasi mereka untuk memastikan bahwa generasi berikutnya akan lebih baik,” Lagarde menekankan.
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo pada kesempatan yang sama mengungkapkan bahwa ASEAN kini sudah menjelma menjadi kawasan dengan ekonomi terbesar keenam di dunia dan ketiga di Asia.
“Kombinasi GDP ASEAN mencapai USD 2,4 miliar dengan pertumbuhan rata-rata di atas 5 persen dan inflasi stabil di angka 3 persen dalam sepuluh tahun terakhir,” ujar Agus.
Agus menambahkan, stabilitas ekonomi ASEAN didukung dengan adanya kerangka kerja sama ASEAN Economic Community serta kemitraan kerja sama dengan Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan.
“ASEAN dapat memiliki peran besar terhadap pertumbuhan ekonomi global,” jelas Agus.