Muhammad Nazarudin Latief
27 Februari 2018•Update: 27 Februari 2018
Muhammad Latief
JAKARTA
Maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia mencatat kerugian sebesar USD213,4 juta di sepanjang 2017 lalu.
Menurut laporan yang dikeluarkan, kerugian terbesar Garuda terjadi di triwulan pertama sebesar USD99,1 juta, sehingga laba bersih yang diperoleh saat itu turun sebanyak 11.69 persen dibanding periode yang sama pada 2016.
Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N Mansury mengatakan kerugian tersebut termasuk perhitungan biaya luar biasa yang terdiri dari denda kasus hukum di Australia sebesar USD7,5 juta dan tax amnesty USD145,8 juta.
"Kalau denda dan tax amnesty tidak dimasukkan kerugian jadi tak lebih besar dari US$67,6 juta," ujar Pahala di Jakarta, Senin sore.
Menurut Pahala, sepanjang tahun lalu Garuda mencatatkan pendapatan operasi sebesar USD4,2 miliar atau meningkat 8,1 persen dibandingkan periode yang sama pada 2016 , yaitu USD3,9 miliar.
Lini bisnis yang melonjak pendapatannya adalah layanan penerbangan tidak berjadwal yang naik hingga 57 persen menjadi USD301 juta.
Sedangkan dari sisi pengeluaran, meningkat sekitar 13 persen dari USD3,7 miliar menjadi USD4,25 miliar.
Pengeluaran terbesar menurut Pahala berasal dari komponen bahan bakar, dari USD924 juta pada 2016 menjadi USD1,15 miliar tahun lalu.