İqbal Musyaffa
10 April 2018•Update: 10 April 2018
Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Maskapai swasta nasional Lion Air Group mengaku siap mendukung kebijakan pengembangan industri sawit di Indonesia.
CEO Lion Air Group Edward Sirait mengatakan akan membantu pemerintah dalam berdiplomasi dengan negara Eropa untuk memperlancar ekspor produk sawit Indonesia ke Eropa.
Lion Air Group saat ini tercatat sebagai pembeli pesawat Airbus terbesar di dunia. Pesawat ini merupakan produk Eropa. Maskapai ini memiliki 41 unit pesawat Airbus A320 dan enam unit Airbus A330.
Saat itu, maskapai ini juga sedang dalam proses pemesanan 100 unit Airbus A320 Neo. Selain Airbus, Lion Air Grup juga menjadi pengguna pesawat asal Eropa lainnya yaitu ATR dengan total 70 unit.
Menurut Edward, pihaknya akan meminta kesetaraan perlakuan dari Eropa dan juga negara mitra lainnya. “Kalau kita beli pesawat dari mereka, kenapa mereka tidak membeli sawit dari kita? Kita akan minta agar mereka juga bisa menerima sawit kita,” ungkap dia.
Saat ini, Edward mengaku sedang mempelajari pernyataan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita beberapa hari lalu yang mengatakan akan menghentikan pembelian pesawat Airbus dan juga Boeing.
Lion Air Group juga pengguna pesawat Boeing asal Amerika. Total pesawat Boeing yang dioperasikan maskapai ini mencapai 186 untuk seluruh jenis. Terbaru, Lion Air Group memesan 50 unit Boeing 737 MaX 10.
“Mungkin saja kita setuju dengan pemerintah untuk tidak beli pesawat dari negara yang menolak sawit kita,” imbuh Edrward.
Selain dukungan diplomasi, dia juga mengatakan akan mendorong pengembangan produksi sawit menjadi bioavtur. “Kalau sekarang sudah ada biodiesel, kenapa tidak sekalian dikembangkan bioavtur,” tambah dia.
Untuk pengembangan bioavtur, Lion bekerja sama dengan Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) Sawit. Direktur Utama BPDP Sawit Dono Boestami mengatakan industri sawit adalah industri terpenting bagi perekonomian Indonesia.
“Kalau ekonomi kita sampai terpuruk, maka tidak ada lagi yang mau naik pesawat. Justru sekarang bagaimana kita bisa berkolaborasi dengan maskapai,” jelas Dono.
Kerja sama ini menurut dia menjadi momentum untuk bisa ditindaklanjuti. Menurut dia, dalam waktu dekat diharapkan hasil kajian pengembangan bioavtur bisa terealisasi.
“Nanti kita bisa menikmati pesawat berbahan bakar bioavtur,” tutur dia.