Muhammad Nazarudin Latief
24 September 2020•Update: 24 September 2020
JAKARTA
Pemerintah mengakui pengembangan Energi Baru Terbarukan di Indonesia menghadapi berbagai tantangan, terutama soal harga yang belum kompetitif dengan energi fosil.
"Harga EBT (Energi Baru Terbarukan) masih lebih mahal dibandingkan pembangkit konvensional," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam siaran pers, Kamis.
Tantangan berikutnya adalah sifat pembangkit yang intermittent atau tidak stabil, seperti listrik tenaga surya dan angin, sehingga membutuhkan kesiapan sistem untuk menjaga kontinuitas pasokan tenaga listrik.
Sebaliknya, pembangkit EBT yang biaya operasionalnya rendah dan kapasitasnya memadai, seperti PLT Air, PLT Minihidro, dan PLT Panas Bumi, biasanya terletak di daerah konservasi yang jauh dari pusat beban listrik.
“Jadi membutuhkan waktu lama dalam pembangunannya karena terhambat mulai dari perizinan hingga kendala geografis,” ujar dia.
Selain itu untuk bioenergi, pengembangan pembangkit biomassa maupun biogas memerlukan jaminan pasokan selama masa operasinya.
Indonesia menurut dia diuntungkan sebagai daerah tropis yang memiliki potensi EBT dari pemanfaatan energi matahari, karena penyinaran energi surya tersebut di Indonesia lebih panjang dibandingkan negara lainnya.
Menurut dia pemerintah akan menambah pembangkit berbasis energi bersih hingga 16,7 giga watt dalam kurun waktu 10 tahun.
Menurut Menteri Arifin tingkat bauran EBT terus meningkat, meski masih didominasi batu bara.
Energi panas bumi mencapai 5,84 persen atau 2.131 GWh, melebihi target 4,94 persen atau 14,77 GWh.
Sementara realisasi energi air mencapai 8,04 persen atau 6.857 GWh dari target 6,23 persen atau 18,63 GWh.
Sementara EBT lainnya realisasinya mencapai 3,24 GWh atau 0,29 persen melebihi dari target yang ditetapkan, yakni 1,01 GWh.
Sedangkan serapan bauran pembangkit gas mencapai 17,81 persen atau setara 175.119 British Billion Thermal Unit (BBTU).
Serapan bauran pembangkit Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Bahan Bakar Nabati (BBN) mencapai 3,75 persen dengan rincian volume 0,86 juta kilo liter untuk BBM dan 0,29 juta kilo liter untuk BBN.
"Total realisasi produksi listrik sebesar 133.216 GWh," ujar Menteri Arifin.
Mundur dari bisnis PLTU batu bara
Sementara itu Perusahaan multinasional energi General Electric (GE) mengumumkan keluar dari bisnis PLTU batu bara, Selasa.
Setelah pengumuman ini, anak perusahaan GE, yakni GE Steam Power melakukan berbagai penyesuaian, seperti antaranya kemungkinan divestasi, penutupan lokasi dan dampak bagi para pekerja.
Dalam pengumumannya, GE akan fokus dalam bisnis teknologi pembangkit dan perangkat energi terbarukan dengan tujuan menjadikan listrik lebih terjangkau, andal, mudah diakses, dan berkelanjutan.
Di Indonesia PLTU yang rencananya akan menggunakan peralatan dari GE adalah PLTU Tanjung Jati A (Jawa 3) yang berlokasi di Cirebon – Jawa Barat dan berkapasitas 1320 MW (2 x 660 MW).
Proyek ini masih dalam tahap perencanaan.