Nicky Aulia Widadio
12 November 2019•Update: 13 November 2019
JAKARTA
Pemerintah Indonesia berencana memprioritaskan diplomasi ekonomi di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi global.
Dalam rapat kerja dengan Komisi 1 DPR RI pada Selasa, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan diplomasi ekonomi akan menjadi prioritas kebijakan luar negeri Indonesia dalam lima tahun ke depan.
Diplomasi ekonomi yang dimaksud mencakup penguatan kerja sama perdagangan hingga menjaga kepentingan strategis Indonesia terkait diskriminasi minyak kelapa sawit di Eropa.
Indonesia, lanjut dia, akan memperkuat pasar domestik sebagai daya tawar Indonesia dalam kerja sama ekonomi.
“Besarnya pasar domestik akan memperkuat posisi kita meningkatkan kerja sama ekonomi yang sifatnya win win,” ujar Retno, di Jakarta, Selasa.
Selain itu, Indonesia juga berencana memperkuat kemitraan dengan pasar nontradisional seperti Amerika Latin, Asia Selatan dan Tengah, Timur Tengah, serta Pasifik.
Retno menuturkan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah memperkuat kemitraan dengan negara-negara Afrika lewat Indonesia-Africa Forum dan Indonesia-Africa Infrastructure Dialog.
“Dialog ini akan ditindaklanjuti dengan intensif antara BUMN dan swasta Indonesia dengan mitra di Afrika,” kata dia.
Selain itu, Indonesia akan memperkuat perundingan dagang dan investasi lewat perjanjian seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Free Trade Agreement (FTA) yang bisa meningkatkan akses pasar produk Indonesia.
Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia, Mahendra Siregar mengatakan diplomasi ekonomi menjadi sangat penting di saat tingkat pertumbuhan ekonomi global saat ini merupakan yang terendah dalam sepuluh tahun terakhir sejak krisis ekonomi global pada 2008-2009.
Menurut dia, perlambatan ekonomi menunjukkan kondisi dunia sedang sulit sebagai dampak perselisihan dagang antara Amerika Serikat dan China, sehingga Indonesia perlu memastikan diplomasi ekonomi dapat mengurangi dampak perlambatan tersebut.
“Persoalan ini memengaruhi pertumbuhan dan stabilitas ekonomi dunia termasuk Indonesia, bahkan memengaruhi hubungan internasional dan geopolitik,” kata Mahendra.