Iqbal Musyaffa
15 Juni 2020•Update: 15 Juni 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan nilai ekspor Indonesia pada Mei hanya USD10,53 miliar, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan ekspor April lalu dan juga Mei tahun lalu.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan ekspor Indonesia turun 13,4 persen dari ekspor April lalu yang sebesar USD12,16 miliar.
“Bila dirinci, ada peningkatan ekspor migas secara bulanan 15,64 persen dari USD0,56 miliar menjadi USD0,65 miliar, namun ekspor nonmigas turun 14,81 persen dari USD11,6 miliar menjadi USD9,88 miliar,” ungkap Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Senin.
Sementara itu, ekspor pada Mei ini turun lebih dalam lagi sebesar 28,95 persen bila dibandingkan dengan ekspor pada Mei tahun lalu yang sebesar USD14,83 miliar.
Ekspor migas secara tahunan turun 42,64 persen dari USD1,14 miliar menjadi USD0,65 miliar, kemudian ekspor nonmigas turun 27,81 persen dari USD13,69 miliar menjadi USD9,88 miliar.
“Ekspor pada Mei ini terendah sejak Juli 2016 yang sebesar USD9,6 miliar,” kata dia.
Menurut Suhariyanto, rendahnya ekspor pada Mei karena perkembangan perekonomian global yang masih buruk dan bahkan terkontraksi sehingga daya beli di banyak negara turut melemah akibat penyebaran Covid-19.
Faktor yang memengaruhi perklembangan ekspor Mei antara lain harga minyak mentah Indonesia pada Mei yang sebesar USD25,67 per barel, naik 24,25 persen dari USD20,66 per barel pada April.
Namun, harga minyak mentah turun tajam 62,3 persen bila dibandingkan dengan Mei tahun lalu.
“Kemudian, beberapa komoditas nonmigas mengalami penurun harga sehingga ekspor nonmigas turun,” kata Suhariyanto.
Dia mengatakan ada penurunan harga batu bara dari April ke Mei sebesar 10,41 persen dan juga harga minyak sawit turun 5,75 persen secara bulanan.