Iqbal Musyaffa
JAKARTA
Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri mengatakan para pelaku usaha untuk tidak menahan spending dalam berekspansi.
Menurut Faisal, ada kecenderungan penurunan tingkat konsumsi masyarakat yang bergeser pada peningkatan dana pihak ketiga atau jumlah tabungan di perbankan. Artinya, masyarakat cenderung meyimpan dana di perbankan dan menahan konsumsi.
“Sebenarnya tidak perlu menunggu momen untuk spending. Sekarang saat yang tepat untuk konsolidasi bisnis sehingga hasilnya bisa dirasakan pada 2019 mendatang,” ujar dia, Kamis.
Menurut Faisal, ada yang salah dengan rendahnya tingkat konsumsi masyarakat yang lebih memilih untuk menabung. BPS merilis daya beli masyarakat di triwulan III tahun ini turun ke level 4,93 persen dari sebelumnya 4,95 persen di triwulan I.
Faisal mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan pada tahun politik 2018 dan 2019 nanti sehingga tidak ada alasan untuk menunda spending. Tidak adanya gejolak dan pertentangan dalam pemilihan panglima TNI baru, menurut Faisal, juga menjadi tanda stabilitas politik Indonesia.
“Indonesia sudah matang secara politik dan demokrasi jadi tidak perlu khawatir,” ujar Faisal.
Bahkan, menurut dia, saat ini adalah saat yang tepat bagi pelaku usaha untuk menarik pinjaman guna melakukan ekspansi bisnis.
“Saat ini tingkat suku bunga rendah dan banyak dana yang tersedia di perbankan,” jelas dia.
Dengan adanya spending pelaku usaha untuk ekspansi bisnis, menurut Faisal dapat mendorong dua hal secara bersamaan yaitu peningkatan konsumsi masyarakat begitupun juga dengan peningkatan dana tabungan yang berasal dari keuntungan dari ekspansi tersebut.
Faisal juga menyatakan optimismenya terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal itu dikarenakan pemerintah mulai mendengar masukan dari berbagai pihak terkait hal-hal yang perlu diperbaiki.
Terlebih, pada upaya peningkatan perekonomian 40 persen penduduk termiskin dan pengurangan tingkat pengangguran melalui beberapa proyek padat karya yang sedang dikerjakan.
Namun, yang menjadi catatan dia adalah pemerintah perlu melakukan perencanaan yang lebih matang lagi dalam setiap proyek infrastruktur yang dikerjakan serta lebih meningkatkan upaya pemerataan ekonomi di timur Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Ekonom Sampoerna University Wahyoe Soedarmo memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan di kisaran 5,4 persen jika inflasi tetap terjaga di level 3-4 persen.
Ia mengatakan tingkat konsumsi sektor swasta dan rumah tangga belum banyak berubah sejak awal tahun 2017 hingga saat ini yang masih belum diketahui penyebab pastinya dan kemungkinan masih akan terus berlanjut.
Tahun 2018 menurut Wahyoe masih dibayangi ketidakpastian ekonomi global meskipun pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat. Hal ini dinilai bisa mendorong peningkatan defisit neraca transaksi berjalan sehingga menyebabkan ketidakstabilan makro ekonomi.
“Struktur modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi investasi portofolio jangka pendek daripada investasi langsung,” jelas dia.
Head of Global Markets PT HSBC Indonesia Ali Setiawan juga menyebut fundamental ekonomi Indonesia mulai membaik terutama di bidang ekspor, serta ekspektasi peningkatan belanja pemerintah untuk kesejahteraan masyarakat juga meningkat.
news_share_descriptionsubscription_contact

