Iqbal Musyaffa
05 Agustus 2020•Update: 05 Agustus 2020
JAKARTA
Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan meskipun ekonomi Indonesia tumbuh negatif 5,32 persen pada kuartal kedua tahun ini, namun ada harapan pemulihan karena beberapa indikator ekonomi mulai membaik pada Juni.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan mulai ada perbaikan indikator secara bulanan, walaupun masih jauh dari kondisi normal sebelum ada pandemi Covid-19.
Dia menjelaskan salah satu perbaikan indikator terjadi pada pertumbuhan sektor transportasi udara internasional yang tumbuh 54,7 persen pada Juni setelah pada Mei lalu terkontraksi 98,84 persen.
“Begitupun pada transportasi udara domestik yang tumbuh 791,38 persen pada Juni, membaik dari Mei yang terkontraksi 88,97 persen,” jelas Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu.
Suhariyanto melanjutkan perbaikan juga terjadi pada angkutan kereta api yang pada Juni tumbuh 69,4 persen setelah pada Mei lalu negatif 73,53 persen.
Angkutan laut juga tumbuh 134,1 persen pada Juni setelah pada Mei lalu negatif 72,67 persen.
“Tingkat penghunian kamar pada Juni juga meningkat 5,25 poin, sementara pada Mei lalu turun 32,57 poin,” imbuh dia.
Suhariyanto mengatakan optimisme adanya perbaikan ekonomi juga terlihat dari Purchasing Managers’ Index yang pada Juli sudah berada di posisi 46,9 membaik dari Juni yang sebesar 39,1 dan Mei 28,6.
“Angka PMI sudah mulai kembali mendekati 50. Kita berharap pada kuartal ketiga geliat ekonomi akan semakin bagus dan pertumbuhan ekonomi juga membaik,” imbuh Suhariyanto.
Dia mengatakan salah satu kunci penting menuju pemulihan ekonomi adalah kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Covid-19 lebih luas.
“Yang saat ini diupayakan pemerintah dalam skenario dan skema kebijakan sudah komprehensif untuk penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi,” tambah Suhariyanto.
Dia menambahkan bahwa Presiden Joko Widodo juga terus menekankan agar anggaran stimulus penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional terus didorong realisasinya untuk meningkatkan permintaan dan pasokan pada daya beli konsumsi rumah tangga, UMKM, dan juga konsumsi pemerintah.