Muhammad Abdullah Azzam
28 Mei 2019•Update: 29 Mei 2019
Enes Canlı
ANKARA
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa korban tewas akibat peperangan yang memanas selama satu bulan lebih di Tripoli sudah 562 orang.
Menurut WHO, hingga kini sebanyak 562 orang tewas, 40 di antaranya warga sipil dan sekitar 2.855 orang terluka dalam bentrokan yang terjadi setelah penyerangan Jenderal Khalifa Haftar ke Tripoli pada 4 April lalu.
Pernyataan WHO itu menyebut lebih darii 50 ribu keluarga mengungsi akibat peperangan di Tripoli.
Sejak awal April, Komandan Khalifa Haftar, yang berafiliasi dengan pemerintah saingan yang berbasis di timur negara itu, meluncurkan operasi militer dengan tujuan untuk mengepung Tripoli, di mana Pemerintah Pusat Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui PBB berkantor pusat.
Meski Haftar sejauh ini gagal merebut ibu kota dari pasukan pro-GNA, pertempuran sporadis di pinggiran kota menimbulkan korban di kedua sisi.
Libya masih dilanda krisis kekerasan sejak 2011, ketika pemberontakan yang didukung NATO menyebabkan Presiden Muammar Khaddafi digulingkan bahkan tewas setelah empat dekade berkuasa.
Sejak itu, perpecahan politik Libya menghasilkan dua kursi kekuasaan yang saling saingan - satu di Al-Bayda dan satu lagi di Tripoli - bersama dengan sejumlah kelompok milisi bersenjata berat.