Rhany Chairunissa Rufinaldo
08 Maret 2019•Update: 04 September 2019
Ali Murat Alhas dan Beyaz Binnur Donmez
ANKARA
Berdasarkan kesepakatan yang dicapai tahun lalu, pada Jumat Turki dan Rusia memulai berpatroli di sekitar kota Idlib, Suriah, menurut menteri pertahanan nasional Turki.
"Hari ini, Rusia akan memulai patroli di daerah perbatasan di luar Idlib sementara patroli Angkatan Bersenjata Turki akan dimulai di zona demiliterisasi," kata Hulusi Akar kepada Anadolu Agency.
Akar mengatakan kesepakatan September lalu membentuk zona demiliterisasi di Idlib dan daerah lainnya, tetapi rezim Suriah telah berulang kali melanggar gencatan senjata di Idlib.
"Mempertahankan gencatan senjata di Idlib adalah langkah penting untuk mengamankan stabilitas di Suriah," ujar dia.
Akar menekankan bahwa kebijakan Turki terhadap negara-negara tetangga, terutama Irak dan Suriah, didasarkan pada kedaulatan politik dan teritorial mereka.
Dia mengatakan bahwa sulit bagi Turki untuk mengadakan kontak dengan rezim Suriah, tetapi Ankara telah mengadakan pembicaraan dengan Moskow dan Teheran tentang situasi di Suriah.
"Turki tidak pernah memiliki masalah dengan populasi Kurdi atau etnis lain di Suriah, karena tentaranya hanya menyerang sarang teroris," tambahnya.
Suriah baru saja mulai keluar dari konflik dahsyat yang dimulai pada 2011, ketika rezim Bashar al-Assad menindak demonstran dengan tingkat kekerasan yang tak terkira.
Sejak itu, menurut PBB, ratusan ribu orang terbunuh dalam konflik dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.