Ayhan Simsek
BERLIN
Menteri Luar Negeri Turki menyerukan beberapa langkah untuk menormalisasi hubungan antara Turki dan Jerman, setelah ketegangan yang menimpa dua sekutu NATO tersebut.
Dalam wawancaranya dengan media Jerman, Der Spiegel, Mevlut Cavusoglu mengemukakan harapannya untuk hubungan Ankara dengan Berlin yang kembali normal, setelah Jerman mengadakan pemilihan umum yang memperdebatkan keanggotaan Turki di Uni Eropa.
“Saya tidak melihat alasan hubungan antara Jerman dan Turki bermasalah,” Cavusoglu mengatakan, dan menekankan bahwa ia siap menormalisasikan hubungan Turki dan Jerman.
“Saya telah menyampaikan kepada teman saya, Sigmar Gabrial sebelum pemilihan umum: Mari kita menatap ke depan. Bila anda mengambil satu langkah ke depan, kami akan mengambil dua langkah,” ucapnya.
Hubungan antara kedua negara tersebut mengalami kemunduran selama masa kampanye pemilihan umum, di mana politisi Jerman menyerang Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, meminta kepada Kanselir Jerman, Angela Merkel untuk menindaktegas isu keanggotaan Turki di Uni Eropa.
Cavusoglu mengungkapkan Turki tidak pernah berniat untuk melakukan konfrontasi dengan Jerman, namun bereaksi saat adanya aksi anti-Turki dan anti-Erdogan di Jerman, di mana terdapat 3 Juta warga Turki tinggal.
“Presiden Erdogan hanya merespon serangan dari Jerman. Kami akan melanjutkan kerja sama dengan Jerman dengan penuh kepercayaan,” ungkapnya.
Kanselir Jerman Angela Merkel mendapat tekanan besar dari para pesaingnya untuk bersikap tegas kepada Turki, terutama dikarenakan penangkapan sekitar 10 warga Jerman, termasuk seorang reporter dan aktivis hak asasi manusia, atas tuduhan dukungan terhadap organisasi teroris.
Sementara koalisi pemerintah konservatif-kiri mengambil beberapa kebijakan ekonomi menjelang pemilihan umum untuk meningkatkan tekanan politik atas Ankara, Merkel menolak seruan untuk mengambil tindakan yang lebih keras, dan menekankan pentingnya menjaga dialog dengan Turki.
Cavusoglu mengesampingkan pengaruh politik pemerintah Turki terhadap pengadilan sehubungan dengan kasus yang melibatkan warga Jerman.
“Pengadilan di Turki independen, bukan berdasarkan saya untuk menghukum atau membebaskan tersangka, ini keputusan hakim," ia menekankan.
Hubungan antara Ankara dan Berlin menegang sejak gagalnya upaya kudeta di Turki tahun lalu, sebagaimana para pejabat pemerintah Turki mengkritik Jerman karena tidak menunjukkan solidaritasnya kepada Turki untuk melawan upaya kudeta militer.
Beberapa politisi Turki mengkritisi Jerman karena tidak mengindahkan kelompok terlarang dan organisasi teroris yang berhadapan dengan Turki, seperti, PKK dan Organisasi Teroris Fetullah (FETO).
FETO dan pimpinannya yang berada di Amerika Serikat, Fetullah Gulen, merancang upaya kudeta oleh militer yang menewaskan 250 jiwa dan sekitar 2.200 orang luka-luka.
Pemerintah Turki menuduh FETO telah lama ingin menggulingkan pemerintah dengan menyusupkan beberapa anggotanya ke dalam institusi pemerintah, khususnya militer, polisi dan lembaga peradilan.
Jerman ada di antara negara-negara yang memiliki jaringan dengan FETO termasuk di dalamnya untuk urusan bisnis, sekolah swasta, dan organisasi media.
Di samping permintaan Turki untuk mengembalikan tersangka FETO untuk diadili di Turki, pemerintah Jerman menolak permintaan tersebut, dan mengharuskan Ankara untuk memberikan bukti atas tuduhan yang diberikan oleh Ankara.
news_share_descriptionsubscription_contact

