Sorwar Alam, Fatih Hafiz Mehmet, Nazli Yuzbasiogllu dan Ecenur Colak
ANKARA
Menteri Luar Negeri Turki menyerukan dunia Muslim menunjukkan dukungannya atas bangsa Palestina dengan mengakui kedaulatan Negara Palestina.
"Mari mendukung jutaan orang Palestina yang dipaksa tinggal di bawah pendudukan Israel atau melarikan diri negaranya dengan nyata bukan hanya kata-kata," ujar Mevlut Cavusoglu dalam sebuah pertemuan para menteri luar negeri Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Istanbul, Selasa.
"Kami mengundang semua orang untuk bersuara lantang menghentikan ketidakadilan ini dan mengakui negara Palestina," katanya.
Turki saat ini memegang jabatan presiden OKI.
"Negara Palestina merdeka sesuai batas 1967 harus direalisasikan secepatnya," kata Cavusoglu.
Dia juga mengulangi dukungan Ankara untuk menghidupkan kembali proses perdamaian di bawah kerangka solusi dua negara - sebuah solusi damai yang menyerukan berdirinya negara Palestina merdeka.
"Kami semua mendukung upaya menghidupkan kembali proses perdamaian. Tapi tidak akan ada perdamaian abadi tanpa hukum dan keadilan," tambahnya.
Top diplomat Turki ini juga meminta umat Islam bersatu melindungi Masjid al-Aqsa dan rakyat Palestina.
"Kita harus bertindak lebih sadar untuk melindungi Masjid Al-Aqsa dan Palestina ... Kita harus melanjutkan perjuangan secara lebih efektif dalam kancah internasional," tambahnya.
Langkah Israel disambut baik
Cavusoglu mengapresiasi langkah Israel yang mengangkat detektor logam di area kompleks Masjid al-Aqsa.
"Israel mengambil langkah yang benar. Harapan kami mulai sekarang Israel memperhitungkan kepekaan umat Islam terhadap Masjid al-Aqsa," tambahnya.
Sekretaris Jenderal OKI Yousef Al-Othaimeen mengatakan, pelanggaran lanjutan Israel di Jerusalem menjadi tanggung jawab di pundak negara-negara anggota OKI.
Othaimeen menambahkan, rakyat Palestina harus mendapatkan perlindungan internasional.
"Pertemuan ini sangat penting sebagai bentuk koordinasi antar negara-negara anggota OKI dalam perjuangannya melawan rencana Israel merebut al-Aqsa," katanya.
Sebelumnya pada Selasa, Cavusoglu bertemu dengan Othaimeen dan Menteri Luar Negeri Malaysia Anifah Aman guna membahas perkembangan terakhir di kompleks Masjid al-Aqsha.
Pertemuan tersebut merespon tindakan Israel di sekitar Masjid Al-Aqsa hingga terjadi baku tembak.
Israel mengatakan langkah tersebut diambil untuk menjaga keamanan, sementara orang-orang Palestina menilai tindakan tersebut adalah usaha menempatkan al-Aqsa di bawah kendali Israel.
Mengkritik langkah Israel, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pekan lalu meminta umat Islam demonstrasi melindungi Al-Aqsa.
Seruan kembali untuk dunia Islam
Usai menghadapi kecaman internasional, Israel akhirnya melepas detektor logam di al-Aqsa pada Jum'at lalu.
Warga Palestina hari Sabtu turun ke jalan-jalan dan bergegas menuju Al-Aqsa untuk merayakan pencabutan detektor. Sejumlah umat Islam dari seluruh dunia juga bergabung dalam perayaan ini.
Selanjutnya, berbicara dalam konferensi pers bersama Al-Othaimeen dan Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Maliki, Cavusoglu mengatakan upaya untuk menodai "hak kedaulatan Palestina atas ibukotanya Yerusalem Timur" telah ditolak.
Dia mengatakan al-Aqsa adalah satu dari tiga tempat suci umat Islam, yang sudah sah dinyatakan oleh OKI.
Dia juga menggarisbawahi bahwa "kewajiban dunia Islam berdiri di samping orang-orang Yerusalem".
Sementara Al-Othaimeen mengatakan dunia Muslim dapat bersatu menyuarakan tuntutannya, yang ia sebut sebagai "kemenangan melawan Zionisme".
"Negara-negara Islam telah mengambil sikap yang sama untuk pertama kalinya dalam menghadapi kesewenang-wenangan Israel terhadap Masjid al-Aqsa. Kedaulatan al-Aqsa merupakan tanggung jawab umat Islam, bukan Israel," katanya.
Al-Maliki mengucapkan terima kasih kepada semua negara, terutama Turki atas dukungannya kepada Palestina. Menurutnya, tanpa usaha tersebut, langkah Israel mencabut kebijakannya di Masjid al-Aqsa tak mungkin bisa segera terjadi.
"Kami telah memenangkan perjuangan ini, tapi perjuangan terus berlanjut, jadi kami selalu membutuhkan dukungan," tambahnya.
news_share_descriptionsubscription_contact
