Hayati Nupus
16 September 2019•Update: 17 September 2019
Sibel Morrow
ANKARA
Menteri Luar Negeri Turki pada Minggu bersumpah untuk membela perjuangan keadilan Palestina sampai akhir.
Pernyataan Mevlut Cavusoglu itu muncul setelah pertemuan darurat Organisasi Kerjasama Islam (OKI) di Jeddah, Arab Saudi, yang digelar dengan pemicu komentar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Lewat Twitter, Netanyahu mengatakan soal penerapan kedaulatan Israel di Lembah Yordan dan Laut Mati jika dia memenangkan pemilihan 17 September.
“Mereka yang merasa tak nyaman dengan pernyataan kita hari ini, secara brutal & membabi buta membantai saudara-saudara Palestina kita, dengan kejam menggunakan terorisme negara di depan mata dunia dan bahkan berusaha tanpa malu menyerang presiden kita. Akan mempertahankan ini sampai akhir!” ujar Cavusoglu dalam cuitannya.
Sekitar 70.000 warga Palestina—juga sekitar 9.500 pemukim Yahudi—saat ini tinggal di Lembah Jordan, sebidang tanah subur luas yang mencakup seperempat keseluruhan Tepi Barat.
Turki, Liga Arab dan negara-negara Eropa mengatakan mereka prihatin dengan rencana Netanyahu. Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan rencana perampasan wilayah itu akan melanggar hukum internasional.
Hukum internasional melihat Tepi Barat dan Yerusalem Timur sebagai “wilayah pendudukan” dan menganggap semua kegiatan pembangunan permukiman Yahudi di lokasi itu ilegal.