Sinan Uslu dan Arif Yavus
08 Oktober 2017•Update: 09 Oktober 2017
Sinan Uslu dan Arif Yavus
AFYONKARAHISAR, Turki
Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan pada Sabtu, Turki akan cegah konflik di barat laut Suriah, Idlib.
“Topik yang muncul di Idlib adalah: Kita mencapai kesepakatan di Astana. Mengapa? Kami ingin mencegah konflik di beberapa area. Area tersebut disebut dengan istilah zona ‘de-conflict’,” ungkap Mevlut kepada para wartawan di Afyonkarahisar.
Cavusoglu mengatakan Astana menjadi awal untuk mengakhiri konflik.
“Tetapi sekarang, tujuan kami untuk menghidupkan kembali proses Jenewa,” ia menambahkan.
Turki menempatkan kekuatan militernya di daerah Idlib yang berdekatan dengan perbatasan Turki-Suriah.
Unsur-unsur Angkatan Bersenjata Turki, yang juga dikenal sebagai TSK, akan diposisikan di dalam batas zona pengurangan ketegangan yang ditujukan untuk wilayah Idlib.
Dalam pertemuan di Ibu Kota Kazakhstan, Astana, pada 4 Mei, Rusia, Turki dan Iran menandatangani kesepakatan untuk membuat zona de-eskalasi di Suriah.
Beberapa negara pendukung rezim Assad dan beberapa faksi oposisi bertemu di Astana pada September, dalam pertemuan ke-6 untuk mengakhiri konflik yang memasuki tahun ke-6.
Kesepakatan gencatan senjata pada Desember lalu membawa perundingan Astana, yang dilakukan secara paralel dengan diskusi yang diprakarsai PBB di Jenewa untuk menemukan solusi politis untuk konflik yang memasuki tahun ke-6.
Suriah terjebak dalam perang saudara sejak 2011, di mana pemerintah Assad menindaklanjuti gerakan pro-demokrasi dengan kejam. Sejak itu, ratusan ribu masyarakat tewas dalam perang saudara, mengacu pada PBB.
Cavusoglu juga menyampaikan ia telah berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson melalui telepon terkait beberapa isu, seperti Iraq, Suriah dan Idlib.
“Kami telah berdiskusi beberapa topik dengan Rex Tillerson dalam 10 hari. Kami memiliki dialog yang baik,” ujar Cavusoglu.
Ia juga menambahkan, ia telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Iran pada Sabtu.