Astudestra Ajengrastrı
30 November 2017•Update: 02 Desember 2017
Ahmet Gurhan Kartal
LONDON
Akun twitter resmi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meretweet serangkaian video sensitif bernada anti-Muslim yang awalnya diunggah oleh wakil pemimpin kelompok sayap kanan Inggris pada Rabu.
Tiga video tersebut dicuitkan oleh wakil ketua kelompok Britain First, Jayda Fransen, yang telah didakwa oleh Pengadilan Inggris pada November 2016 karena tindak pelecehan yang terkait dengan agama.
Video-video ini juga secara otomatis di-tweet dan di-retweet oleh setidaknya tiga akun yang berkaitan dengan kelompok itu.
Britain First terkenal di Inggris karena ideologi mereka yang anti-Islam, anti-masjid yang kerap melakukan provokasi di jalan-jalan dan dunia maya.
Kelompok ini juga membentuk apa yang mereka sebut dengan “patroli Kristen” di beberapa kota di Inggris dan melakukan sweeping ke masjid-masjid.
Setelah melihat Trump me-retweet dirinya, Fransen kemudian mencuit: “TUHAN MEMBERKATIMU TRUMP! TUHAN MEMBERKATI AMERIKA!”
Dewan Muslim Inggris (MCB) turut mengomentari aksi saling retweet ini dan menyebutnya sebagai “dukungan paling jelas dari presiden AS untuk kelompok sayap kanan dan propaganda anti-Muslim dari mereka”.
“Kami berharap Perdana Menteri dan Sekretaris Negara Inggis akan mengambil jarak dari Trump dan komentar-komentarnya, dan akan menyatakan kembali keberatan pemerintah atas segala jenis gerakan ekstrimis,” sebut pernyataan MCB.
Tell MAMA, kelompok nirlaba yang mendata kejahatan anti-Muslim di Inggris, juga memberi reaksi keras untuk aksi siber Trump.
‘Benar-benar mengerikan’
“Kami benar-benar terkejut seorang Presiden Amerika Serikat me-retweet cuitan Jayda Fransen yang merupakan anggota kelompok sayap kanan Britain First,” kata Tell MAMA.
“Kejadian ini menunjukkan bagaimana ekstremisme sudah menjadi mainstream,” tambah kelompok itu.
Anggota parlemen Inggris, Caroline Lucas, menuduh Trump telah me-retweet seorang “terpidana fasis Inggris” dan meminta Perdana Menteri Theresa May untuk mengutuk unggahan tersebut.
Sementara itu, Perdana Meteri Theresa May berkata, tindakan presiden AS ini sangat “salah”.
“Adalah hal yang salah bagi seorang Presiden untuk melakukan hal seperti ini,” juru bicara resmi May mengutip.
Brendan Cox, duda dari anggota parlemen Inggris Jo Cox yang tewas terbunuh karena kejahatan sayap kanan, juga bereaksi. “Trump telah melegitimasi gerakan sayap kanan di negaranya sendiri, sekarang dia mencoba melakukannya di negara kita.”
“Menyebarkan kebencian memiliki konsekuensi besar dan Presiden harus malu pada dirinya sendiri.”
Teroris sayap kanan, Thomas Mair, meneriakknya “Britain First” sebelum membunuh Jo Cox selama masa referendum Uni Eropa pada 2016.
Britain First adalah kelompok fasis Islamofobia yang didirikan oleh mantan anggota Partai Nasional Inggris pada 2011.
Kelompok ini melakukan invasi di masjid-masjid dan menggalang demo provokatif dengan para pedemo memakai seragam militer, bahkan mengendarai jip militer tua.
Paul Golding, pemimpin Britain First dan wakilnya Jayda Fransen berkali-kali ditahan karena berbagai tindakan rasis mereka. Keduanya juga sudah menerima vonis atas tuduhan-tuduhan tersebut.