Rabia Iclal Turan
31 Desember 2025•Update: 31 Desember 2025
WASHINGTON
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan harapannya agar Israel di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dapat menjalin hubungan yang lebih baik dengan Suriah, menyusul perubahan kepemimpinan di negara tersebut.
“Saya berharap dia bisa rukun dengan Suriah, karena presiden baru Suriah sedang bekerja sangat keras untuk melakukan pekerjaan yang baik,” kata Trump kepada wartawan di depan kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Senin, menjelang pertemuannya dengan Netanyahu.
Trump mengatakan isu Suriah akan menjadi salah satu agenda pembahasan dalam pertemuannya dengan perdana menteri Israel tersebut, selain rencana gencatan senjata di Jalur Gaza. Ia juga menyinggung keputusan pemerintahannya untuk mencabut sanksi terhadap Suriah.
“Kami ingin memberi Suriah kesempatan untuk stabil. Kami ingin melihat Suriah bisa bertahan,” ujarnya.
Setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember 2024, Israel memperluas pendudukannya di Dataran Tinggi Golan dengan merebut zona penyangga demiliterisasi, sebuah langkah yang melanggar perjanjian pemisahan pasukan tahun 1974 antara Israel dan Suriah.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan Israel dilaporkan hampir setiap hari melakukan operasi di wilayah selatan Suriah, khususnya di Provinsi Quneitra. Operasi tersebut meliputi penangkapan, pendirian pos pemeriksaan, serta perusakan kawasan hutan, yang memicu kemarahan warga setempat.
Upaya perundingan keamanan yang dimediasi Amerika Serikat antara Damaskus dan Tel Aviv sejauh ini belum membuahkan hasil. Israel menginginkan perjanjian keamanan baru, sementara Suriah menuntut penarikan pasukan Israel ke garis sebelum 8 Desember 2024 serta pemulihan Perjanjian Pelepasan Pasukan 1974, yang oleh para pemimpin Israel dinyatakan tidak berlaku hingga “ketertiban dipulihkan di Suriah.”
Bashar al-Assad, yang memimpin Suriah hampir 25 tahun, melarikan diri ke Rusia pada 8 Desember 2024, mengakhiri kekuasaan Partai Baath yang telah berkuasa sejak 1963. Ahmed al-Sharaa, tokoh yang memimpin pasukan anti-rezim menggulingkan Assad, kemudian ditetapkan sebagai presiden untuk masa transisi pada akhir Januari.