Michael Hernandez
03 Desember 2017•Update: 04 Desember 2017
Michael Hernandez
WASHINGTON
Untuk pertama kalinya sejak Michael Flynn mengaku bersalah karena membuat pernyataan palsu kepada FBI, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, pada Sabtu, menyatakan pembelaannya terhadap mantan penasihat keamanan nasionalnya.
Trump menyebut Flynn telah bertindak sesuai aturan hukum selama masa transisi menuju pelantikan dirinya
"Saya harus memecat Jenderal Flynn karena ia telah berbohong pada Wakil Presiden dan FBI. Ia telah mengakui kesalahannya. Saya menyayangkan hal ini karena tindakannya selama masa transisi sudah sesuai aturan hukum. Sama sekali tak ada yang ditutup-tutupi!" tulis Trump dalam akun Twitter-nya.
Flynn telah sepakat untuk bekerja sama sepenuhnya dengan pengacara khusus Robert Mueller dalam penyelidikan dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan umum presiden tahun lalu.
Trump telah berulang kali menyangkal tuduhan kolusi dengan Rusia. Trump bahkan mengaku tak khawatir dengan apa saja yang mungkin akan diungkapkan Flynn kepada penyidik.
"Tidak, saya tidak khawatir. Karena memang tidak ada kolusi apa pun, jadi kami tenang," ujar dia.
Flynn meninggalkan administrasi dengan bersikeras bahwa ia tidak berhubungan dengan Duta Besar Rusia untuk AS Sergey Kislyak, namun pernyataan dari kantor Mueller menyebutkan bahwa Flynn menghubungi Kislyak pada 29 Desember 2016 untuk membahas sanksi ekonomi setelah berdiskusi dengan "seorang pejabat senior" dari tim transisi Trump yang tengah berada di resort Mar-a-Lago milik Trump bersama dengan pejabat senior lainnya.
Ia diarahkan secara terpisah oleh seorang anggota pejabat senior dari tim transisi untuk menghubungi pemerintah luar negeri, termasuk Rusia, pada 22 Desember, untuk membahas resolusi PBB untuk Israel.
Laporan media menyebutkan bahwa pejabat senior yang dimaksud adalah menantu sekaligus penasihat Trump Jared Kushner.
Kushner merupakan tokoh sentral dalam masa transisi dan administrasi Trump. Ia memimpin upaya perundingan perdamaian kembali antara Israel dan Palestina.
Menurut catatan penyidik, Flynn menghubungi Rusia pasa 22 Desember untuk membahas resolusi PBB atas Israel. Di bawah pemerintahan Presiden Barack Obama, AS tidak memberikan suara atas resolusi, namun memilih abstain.
Menyusul pemungutan suara pada 23 Desember, lewat Twitter-nya, Trump menuliskan tekadnya, "Mengenai PBB, beberapa hal akan berubah setelah 20 Januari," cuit Trump merujuk pada pelantikannya.
Catatan penyidik juga memaparkan beberapa pernyataan palsu Flynn kepada FBI mengenai kontak dengan pemerintah luar negeri.