Dandy Koswaraputra
31 Agustus 2018•Update: 31 Agustus 2018
Ovunc Kutlu
NEW YORK
Presiden AS Donald Trump mengancam akan menarik negaranya dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) kecuali negara itu mulai memperlakukan Amerika lebih baik.
"Jika mereka tidak berubah, saya akan mundur dari WTO," kata Trump kepada Bloomberg News dalam sebuah wawancara di Gedung Putih, Kamis.
Presiden mengklaim organisasi tersebut telah memperlakukan AS "sangat buruk" meskipun AS telah memenangkan 87 persen dari kasus yang dibawa ke WTO terhadap negara lain, menurut analisis Bloomberg.
Namun keputusan Trump untuk memberlakukan tarif impor baja dan aluminium dari negara lain, dikombinasikan dengan tarif tambahan pada barang-barang Cina, telah menempatkan AS dalam posisi yang sulit.
Kementerian Perdagangan Turki mengumumkan pada 20 Agustus bahwa mereka telah meluncurkan proses hukum terhadap keputusan Washington untuk mengenakan tarif atas impor baja dan aluminium Turki.
India, China, Swiss, Norwegia, Kanada, Rusia, Meksiko, dan Uni Eropa juga telah memulai proses hukum terhadap AS di WTO, menurut kementerian.
Pernyataan Trump terhadap WTO bukan kritik pertama AS terhadap WTO.
Pada bulan Januari, Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat Robert Lighthizer mengatakan bahwa mengizinkan Tiongkok masuk ke dalam WTO pada tahun 2001 adalah sebuah kesalahan.
Namun para ahli berpendapat bahwa membawa China ke dalam WTO dan sistem perdagangan global adalah cara yang berhasil untuk menghindari potensi perang perdagangan.
Sementara AS telah memimpin jalan dalam membentuk ekonomi global dan sistem perdagangan pasar bebas di era pasca Perang Dunia II, penarikannya dari WTO akan menjadi pukulan besar bagi dirinya sendiri, ekonomi global dan pasar keuangan, para ahli memperingatkan.