Rhany Chairunissa Rufinaldo
24 Juli 2019•Update: 25 Juli 2019
Shukri Hussein
ADEN, Yaman
Setiap pagi, Hadil Mahmoud, gadis Yaman berusia 13 tahun, biasa melakukan hobinya memanjat pohon di dekat rumahnya di provinsi Taiz.
Suatu hari, ketika sedang bermain di atas pohon di kampung halamannya, Desa Al-Arari, sebuah peluru nyasar mengenai kakinya.
"Sebuah peluru yang ditembakkan oleh pemberontak Houthi mengenai saya ketika sedang memanjat pohon di dekat rumah saya," kata Hadil kepada Anadolu Agency.
Dia kemudian dilarikan ke rumah sakit di Kota Aden untuk mendapat perawatan.
"Ketika melihat tangan saya dibalut dengan perban, saya tidak pernah berpikir bahwa keduanya diamputasi dan bahwa saya tidak akan bisa menulis atau menggambar lagi," kata gadis itu dengan air mata mengalir di pipinya.
"Saya tidak percaya bahwa saya tidak akan punya tangan lagi."
Sebuah laporan PBB mengatakan bahwa lebih dari 7.500 anak terbunuh atau terluka di Yaman sejak 2014.
"Penderitaan anak-anak di Yaman memburuk selama periode laporan, menjadi benar-benar mengerikan," kata Virginia Gamba, perwakilan khusus PBB untuk anak-anak dalam konflik, bulan lalu.
"Penduduk sipil, terutama anak-anak, disandera oleh konflik yang tidak mereka pilih," tambah dia.
Yaman dilanda konflik kekerasan dan kekacauan sejak 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar negara itu, termasuk ibu kota Sanaa.
Krisis meningkat setahun kemudian ketika koalisi militer pimpinan Saudi melancarkan kampanye udara besar-besaran untuk mengalahkan Houthi.
Menurut PBB, Yaman menghadapi salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia, di mana lebih dari 10 juta orang berada di ambang bencana kelaparan dan lebih dari 22 juta orang membutuhkan bantuan dan perlindungan kemanusiaan.
Penderitaan tanpa akhir
Taha Mohamed, paman Hadil, mengatakan bahwa sebuah organisasi telah menawarkan untuk membantu transplantasi anggota badan buatan untuk keponakannya di Swiss.
Rencananya adalah untuk memindahkan Hadil dan dua anak lainnya ke Mesir dan kemudian ke Jenewa.
"Segera setelah kami tiba di Kairo, secara mengejutkan organisasi meminta untuk mengadakan konferensi pers," ujar Taha.
Dia menyesalkan bahwa konferensi pers itu murni dimaksudkan untuk mempromosikan organisasi dan memamerkan kegiatannya dengan memanfaatkan situasi.
Keluarga itu menolak untuk berpartisipasi dalam konferensi pers dan organisasi membalas dengan menghentikan uang saku harian mereka sebesar 50 EGP per hari (sekitar Rp. 42.000).
"Kami mengalami hari-hari yang sulit. Tanpa bantuan penduduk setempat, kami akan kehilangan tempat tinggal," kenang Taha.
Taha mengatakan bahwa keinginan terbesar mereka adalah kembali ke Yaman.
"Kami pergi ke kedutaan di Kairo dan setelah empat bulan berhasil mendapatkan kembali paspor kami," ungkap dia.
Taha mencatat bahwa selama periode ini, seorang pengusaha di Taiz berjanji untuk mensponsori operasi transplantasi tangan palsu Hadil di Kairo.
"Namun, dokter mengatakan kepada keluarga bahwa akan sangat sulit untuk transplantasi tangan palsu elektronik," kata sang paman.
"Kami tidak punya pilihan lain selain menerima pemasangan tangan prostetik normal," tambah dia.
Meskipun menderita, gadis Yaman itu masih bermimpi menjadi presenter televisi di masa depan.