Muhammad Abdullah Azzam
30 Mei 2020•Update: 30 Mei 2020
Rabia Iclal Turan
ANKARA
Lima tentara bayaran Inggris terlibat dalam operasi helikopter tempur dalam serangan pasukan Jenderal Khalifa Haftar merebut ibu kota Libya Tripoli, lapor media Inggris pada Jumat.
Laporan harian Telegraph, mengutip sumber anonim dari informasi rahasia PBB, mengungkapkan bahwa tentara bayaran itu masing-masing digaji hingga USD150.000 untuk peran mereka dalam plot, yang tidak berjalan dengan baik.
"USD30.000 hingga USD50.000 sebulan, atau USD20.000 hingga USD40.000 per bulan tergantung pada tugas sebagai pilot atau awak kapal," tambah sumber itu.
Di antara 20 tentara bayaran yang melakukan perjalanan ke Libya Juni tahun lalu, lima di antaranya adalah mantan personil militer Inggris yang bertugas di Royal Maries dan Royal Air Forces, kata laporan itu.
Laporan itu juga menyebut operasi itu dipimpin oleh Steven Lodge, mantan perwira Angkatan Udara Afrika Selatan yang juga bertugas di militer Inggris.
Namun Lodge membantah tuduhan itu.
Operasi itu "berakhir dengan lelucon" setelah pertikaian dengan Haftar mengenai kualitas helikopter, menurut laporan itu.
Semua tentara bayaran itu melarikan diri ke Malta dengan Perahu Karet Rigid Hull (RHIBs) militer, di mana mereka ditangkap dan kemudian dibebaskan tanpa tuduhan.
Sebelumnya pada pertengahan Mei, media internasional, mengutip laporan PBB, mengungkapkan bahwa dua perusahaan yang berbasis di Dubai mengirim tentara bayaran dari Barat untuk mendukung Haftar dalam serangannya merebut ibu kota Libya, Tripoli.
Mereka datang ke Libya pada Juni 2019 untuk melakukan "operasi perusahaan militer swasta yang didanai dengan baik" mendukung serangan Haftar terhadap pemerintah Libya.
Dua diplomat Libya mengatakan kepada media Amerika bahwa dua perusahaan memasok "pasukan Haftar dengan helikopter, drone dan keahlian di dunia maya melalui jaringan kompleks perusahaan tempurung."
Pemerintah Libya yang diakui secara internasional, juga dikenal sebagai Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) diserang oleh pasukan Haftar sejak April 2019, dengan korban lebih dari 1.000 orang tewas.
Pada Maret, pemerintah Libya meluncurkan Operasi Badai Perdamaian untuk melawan serangan di ibu kota, dan baru-baru ini mendapatkan kembali lokasi-lokasi strategis, termasuk pangkalan udara Al-Watiya, dalam sebuah pukulan besar terhadap pasukan Haftar.
Libya telah dihancurkan oleh perang saudara sejak penggulingan mendiang penguasa Muammar Khaddafi pada 2011.
Pemerintah baru Libya didirikan pada 2015 berdasarkan perjanjian yang dipimpin oleh PBB, tetapi upaya untuk penyelesaian politik jangka panjang gagal karena serangan militer oleh pasukan Haftar.