Dwi Nur Arry Andhika Muchtar
25 Desember 2018•Update: 26 Desember 2018
Oleh Husameldin Badawi Ahmed Almayl dan Safiye Karabacak
KHARTOUM, Sudan
Presiden Sudan pada Senin berjanji untuk melakukan reformasi ekonomi, di tengah aksi protes yang menentang kenaikan harga dan langkanya kebutuhan-kebutuhan dasar.
Kantor berita pemerintah SUNA melaporkan Omar al-Bashir "telah menegaskan pemerintah akan terus melakukan reformasi ekonomi untuk memastikan kehidupan yang layak bagi warga negaranya."
Dia bertemu dengan pejabat Dinas Keamanan dan Intelijen, dan memuji pekerjaan mereka, sebagaimana menjaga keamanan masyarakat.
"Presiden Al-Bashir menyerukan kepada warga negaranya untuk tidak terhasut dengan rumor yang beredar dan mencegah usaha untuk menimbulkan rasa frustrasi, berjanji untuk mengeluarkan kebijakan yang mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada sistem yang ada," lapor SUNA.
Beberapa negara bagian Sudan digoyang oleh aksi protes sejak Rabu, menentang mahalnya harga-harga, inflasi dan harga roti yang naik dua kali lipat.
Saat pejabat melakukan estimasi angka kematian mencapai delapan, kelompok oposisi mengatakan sekurang-kurangnya 22 orang telah tewas.
Pada Minggu, aksi protes pecah di Omdurman, kota kembar ibu kota Khartoum dan bagian utara dan selatan negara bagian Kordofan.
Beberapa saksi mata mengatakan polisi menembakkan gas air mata kepada pendukung sepak bola yang sedang berada di pusat kota Khartoum dengan nyanyian anti Presiden Omar al-Bashir, yang menjadi presiden sejak 1989.
Otoritas Sudan telah mengumumkan keadaan darurat dan memperlakukan jam malam di beberapa provinsi karena aksi protes, dengan menuduh Israel dan kelompok pemberontak yang menjadi dalangnya dengan menciptakan kekerasan di Sudan.
Sudan-negara dengan populasi 40 juta orang- telah berjuang pulih sejak kehilangan tiga perempat minyaknya sejak Sudan Selatan memisahkan diri pada 2011.