28 Agustus 2017•Update: 28 Agustus 2017
Mohammed Amin
KHARTOUM
Sudan dan Libya sepakat untuk meredakan ketegangan di antara mereka dan mengamankan perbatasan bersama.
Dalam sebuah konferensi pers gabungan dengan Perdana Menteri Libya Fayez Mustafa al-Sarraj di Khartoum, Minggu, Presiden Sudan Omer Al-Bashir menyatakan dukungannya terhadap pemerintah Libya yang diakui dunia dan stabilitas negara tersebut.
Kunjungan pemimpin Libya dilaksanakan di tengah ketegangan yang muncul sejak Juli lalu, ketika Libya memerintahkan penutupan Konsulat Sudan di Kota Kofra, di tenggara Libya, dan memberhentikan 12 diplomat.
Presiden Sudan menolak “agenda” apa pun di Libya dan mengatakan: “Prioritas pertama, kedua, dan terakhir kami adalah kepentingan negara Libya.”
Bashir mengatakan, ketidakstabilan di Libya telah mempengaruhi keamanan nasional Sudan.
“Kami terkena dampak langsung dari gejolak di Libya, termasuk harga yang kami bayar untuk memerangi perdagangan manusia, migrasi ilegal, dan kejahatan transit,” ungkap Bashir.
Ia menegaskan bahwa kehadiran tentara bayaran Sudan di antara kelompok pejuang Libya merupakan ancaman langsung terhadap keamanan Sudan.
Perdana Menteri Libya mengatakan bahwa mereka telah sepakat untuk sepenuhnya memperbaiki hubungan, dan kesepakatan mula-mula untuk integrasi utuh antara kedua negara akan dilaksanakan.
“Kami akan belajar dari kesalahan sebelumnya, demi memperkuat hubungan kedua negara,” tegasnya.
“Kami juga telah membicarakan upaya bersama untuk mengamankan perbatasan bersama kami dan mengaktifkan kembali perjanjian keamanan,” tambah Sarraj.