Rhany Chairunissa Rufinaldo
13 November 2019•Update: 13 November 2019
Muhammed Emin Canik
BUENOS AIRES
Senator Jeanine Anez menyatakan dirinya sebagai presiden sementara Bolivia pada Selasa, meskipun gagal mendapatkan suara mayoritas karena diboikot oleh anggota Gerakan untuk Sosialisme pimpinan Morales.
Anggota Partai Uni Demokratik dan wakil presiden kedua Senat itu mengambil kendali sebagai kepala negara dalam sidang Majelis Legislatif Bolivia dan akan memimpin negara menuju pemilihan umum 90 hari setelah Evo Morales mengundurkan diri .
Anez mengatakan undang-undang negara itu memungkinkan dia untuk menempati posisi kepala negara sementara setelah pengunduran diri presiden dan wakil presiden.
Dia menekankan bahwa dia akan melakukan yang terbaik untuk memastikan perdamaian di negara itu dan akan mengadakan pemilihan umum sesegera mungkin.
Anez dikenal dengan politiknya yang anti-Morales dan telah menjabat sebagai anggota parlemen oposisi selama 10 tahun.
Sementara itu, pendukung Morales terus melakukan protes di Ibu Kota La Paz.
Dalam pemilihan presiden pada 20 Oktober di Bolivia, Morales memperoleh 47,8 persen suara, tetapi pihak oposisi mengklaim adanya kecurangan selama pemilu.
Setelah oposisi menyerukan agar hasil pemilu dibatalkan, Morales pun mengumumkan pemilihan baru, tetapi pendukung oposisi tetap melanjutkan aksi protes.
Pada Minggu, Panglima Angkatan Darat Bolivia Williams Kaliman lewat pidato yang disiarkan di televisi meminta Morales untuk mundur.
Morales menyebut insiden ini sebagai "kudeta". Dia memutuskan mundur untuk mencegah pemimpin oposisi Luis Fernando Camacho dan Carlos Mesa mengeluarkan instruksi lebih lanjut kepada para pendukung mereka untuk menyerang warga Bolivia.