Diyar Guldogan
08 Mei 2024•Update: 09 Mei 2024
WASHINGTON
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa invasi darat Israel ke kota Rafah di selatan Gaza “tidak dapat ditoleransi”.
"Hari ini saya menyampaikan seruan yang sangat kuat kepada pemerintah Israel dan pimpinan Hamas agar melakukan upaya ekstra untuk mewujudkan perjanjian yang penting," kata Guterres sebelum bertemu dengan Presiden Italia Sergio Mattarella di New York.
“Ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan, dan invasi darat di Rafah tidak dapat ditoleransi karena dampak kemanusiaannya yang sangat buruk dan dampaknya yang mengganggu stabilitas di kawasan,” tambah dia.
Kelompok Palestina Hamas mengatakan pada Senin malam bahwa mereka telah menerima proposal Qatar & Mesir untuk gencatan senjata di Gaza.
Namun Israel mengatakan pada Senin malam bahwa tawaran gencatan senjata yang diterima Hamas tidak memenuhi tuntutan utamanya.
Kabinet perang Israel juga memutuskan untuk melanjutkan operasi di Rafah “untuk menerapkan tekanan militer terhadap Hamas dengan tujuan mencapai kemajuan dalam pembebasan sandera dan tujuan perang lainnya.”
Tentara Israel mengeluarkan perintah evakuasi segera pada Senin pagi bagi warga Palestina di lingkungan timur Rafah dan meminta mereka untuk pindah ke kota al-Mawasi di Gaza selatan.
Rafah menjadi rumah bagi lebih dari 1,5 juta pengungsi Palestina yang berlindung dari perang yang dilancarkan Israel sejak 7 Oktober.
Sejak itu, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 34.700 warga Palestina, sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.
Hampir tujuh bulan selama perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza telah hancur, menyebabkan 85 persen penduduk di wilayah itu mengungsi di tengah blokade makanan, air bersih dan obat-obatan, kata PBB.