Rhany Chairunissa Rufinaldo
27 Agustus 2019•Update: 27 Agustus 2019
Michael Hernandez
WASHINGTON
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Senin memperingatkan tentang darurat iklim yang mengerikan dan mendesak para pemimpin dunia untuk memerangi tingkat emisi karbon bersejarah.
Guterres mengungkapkan bahwa emisi karbon berada pada tingkat tertinggi dalam sejarah manusia yang tercatat serta memperingatkan soal pencairan es dramatis di Greenland dan kebakaran hutan yang merusak sebagian Lingkaran Arktik dan Amazon.
"Kita sekarang menghadapi keadaan darurat iklim yang dramatis. Sangat penting jika negara-negara berkomitmen untuk meningkatkan apa yang dijanjikan di Paris karena apa yang dijanjikan tidak cukup dan bahkan tidak dilaksanakan pada saat ini," kata Guterres di Biarritz, Prancis, tempat para pemimpin G7 berkumpul.
Guterres merujuk pada Persetujuan Paris yang ditandatangani pada 2015 oleh hampir semua negara di dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih untuk menarik Washington dari perjanjian setahun setelah ditandatangani oleh pendahulunya karena merasa persyaratan yang ditetapkan bagi negaranya tidak adil.
Keputusan itu menempatkan masa depan perjanjian dalam bahaya karena AS adalah pencemar karbon terbesar kedua di dunia.
Trump tidak menghadiri panel G7 tentang perubahan iklim pada Senin pagi dan Guterres terlihat mengabaikan kekhawatiran tentang kurangnya keterlibatan presiden AS itu dalam memerangi perubahan iklim.
Sekjen PBB itu mengatakan akan semakin banyak aktor sub-nasional seperti pemerintah daerah, masyarakat sipil dan bisnis yang akan menentukan tingkat emisi dan kontribusi negara terhadap tindakan terkait iklim.
"Jadi saya sangat optimis tentang masyarakat Amerika dan kapasitasnya untuk melakukan sehubungan dengan aksi iklim," ujar Guterres.
Dia menekankan bahwa yang terpenting adalah adanya keterlibatan yang kuat dari masyarakat, komunitas bisnis dan otoritas lokal Amerika.