Pizaro Gozali İdrus
27 April 2019•Update: 29 April 2019
Elena Teslova
MOSKOW
Moskow mengundang Israel untuk membahas program nuklirnya pada konferensi pembentukan zona bebas senjata pemusnah massal di Timur Tengah, ujar Rusia pada Jumat.
Tel Aviv belum mengumumkan apakah akan berpartisipasi dalam acara yang dijadwalkan berlangsung pada akhir 2019 itu, kata wakil menteri luar negeri Sergey Ryabkov kepada Anadolu Agency di Moskow.
"Kami pikir semua peserta dalam acara ini akan memiliki kesempatan sama untuk secara efektif menjalankan, mempertahankan dan mendukung keinginan dan prioritas mereka," kata Ryabkov.
Ryabkov menggarisbawahi ada banyak peserta yang ingin membahas persoalan nuklir Israel dalam konferensi.
"Saya seorang pendukung pembahasan masalah-masalah yang berkaitan dengan aspek-aspek tertentu dari keamanan suatu negara di hadapan negara [bersenjata nuklir] semacam itu," kata Ryabkov, seraya menambahkan keputusan akan diambil melalui konsensus dan tidak ada yang dapat "mendikte" Israel terhadap kepentingan keamanannya.
Rincian program nuklir Israel pertama kali diketahui pada 1985 saat mantan teknisi nuklir dan aktivis perdamaian negara itu Mordechai Vanunu menentang penggunaan senjata pemusnah massal.
Vanunu juga mengungkapkan rincian program senjata nuklir Israel kepada pers pada tahun 1986, meskipun Tel Aviv belum mengkonfirmasi terkait masalah ini.
Iran 'negara paling banyak diinvestigasi di dunia'
Ryabkov juga mengatakan Iran adalah negara yang paling banyak diinvestigasi terkait persoalan nukli meski telah mematuhi Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA atau dikenal sebagai kesepakatan nuklir Iran.
Dia menambahkan persoalannya barat telah berjanji melakukan normalisasi ekonomi di Iran.
AS tidak hanya menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran, tetapi juga mengancam akan menjatuhkan sanksi kepada negara-negara lain yang bekerja sama dengan Teheran, kata Ryabkov menambahkan.
Dia mengecam Washington yang "menentang perjanjian internasional" dan menegaskan niat Rusia untuk menghormati JCPOA.