Politik, Dunia

Rusia prihatin terhadap krisis pemerintah-militer di Armenia

Juru bicara Kremlin dan Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan peristiwa di Armenia adalah 'urusan internalnya'

Muhammad Abdullah Azzam   | 26.02.2021
Rusia prihatin terhadap krisis pemerintah-militer di Armenia Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov. (Foto file - Anadolu Agency)

Moscow City

Elena Teslova

MOSKOW

Rusia mengikuti perkembangan terakhir di Armenia dengan penuh "keprihatinan," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov pada Kamis.

Mengomentari permintaan militer Armenia yang menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Nikol Pashinyan, Peskov mengatakan apa yang terjadi adalah "urusan internal Armenia."

Namun, Peskov juga meminta pihak-pihak di Armenia untuk tenang dan menahan diri.

"Kami mengikuti perkembangan situasi di Armenia dengan keprihatinan. Kami yakin ini murni urusan internal Armenia," kata Peskov.

Menanggapi kritik Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan soal senjata Rusia, Peskov mengatakan senjata Rusia membuktikan efisiensinya berkali-kali.

Dalam sebuah pernyataan terpisah, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut krisis politik di Armenia sebagai "urusan internal" negara itu.

Kemlu Rusia kemudian menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov melakukan percakapan via telepon dengan mitranya dari Armenia Ara Ayvazyan.

"Pihak Rusia menekankan bahwa mereka menganggap situasi itu sebagai masalah internal Armenia, dan mengharapkan penyelesaian secara damai," kata pernyataan itu.

Militer Armenia pada Kamis menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri Nikol Pashinyan.

Onik Gasparyan, kepala Staf Umum tentara Armenia, bersama dengan komandan senior lainnya mengeluarkan pernyataan yang menyerukan agar Pashinyan mundur.

Pashinyan mengecam seruan militer sebagai upaya kudeta, dan mendesak para pendukungnya turun ke jalan untuk melawan upaya kudeta itu.

Pashinyan kemudian mengumumkan pemecatan panglima militer di Facebook.

Kerusuhan menyusul berakhirnya konflik militer antara Armenia dan Azerbaijan pada musim gugur yang lalu secara luas dipandang sebagai kemenangan bagi Azerbaijan.

Hubungan antara bekas republik Soviet tegang sejak 1991, ketika militer Armenia menduduki Nagorno-Karabakh, juga dikenal sebagai Karabakh Atas, sebuah wilayah yang diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, dan tujuh wilayah yang berdekatan.

Selama konflik enam minggu, yang berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi Rusia, Azerbaijan membebaskan beberapa kota strategis dan hampir 300 pemukiman dan desanya dari pendudukan Armenia.

Sebelumnya, sekitar 20 persen wilayah Azerbaijan telah diduduki secara ilegal selama hampir tiga dekade.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın