Alperen Aktas
04 November 2025•Update: 06 November 2025
ISTANBUL
Rusia dan China kini melaksanakan 99,1 persen transaksi perdagangan bilateral mereka menggunakan mata uang nasional, yakni rubel dan yuan, kata Menteri Keuangan Rusia Anton Siluanov pada Selasa.
Pernyataan ini menegaskan semakin dalamnya integrasi keuangan kedua negara di tengah sanksi Barat.
“Jika berbicara tentang penyelesaian transaksi, 99,1 persendilakukan dalam rubel dan yuan,” ujar Siluanov kepada saluran televisi Rossiya-1, mengonfirmasi data serupa yang sebelumnya disampaikan Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak.
Berbicara pada pembukaan Dialog Keuangan Rusia–China ke-11 di Beijing, Siluanov menekankan pentingnya menjaga stabilitas infrastruktur keuangan bilateral serta mengembangkan saluran pembayaran baru guna mendukung perdagangan dan investasi bersama.
“Penting untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi dunia usaha serta menyediakan mekanisme pembayaran yang jelas dan mudah diakses bagi warga Rusia dan China,” ujar dia.
Dia menambahkan, langkah ini juga akan mendorong pertukaran budaya, ilmu pengetahuan, dan pariwisata antara kedua negara.
Siluanov menegaskan bahwa sistem ekonomi Rusia dan China telah membuktikan ketahanannya “bahkan di bawah tekanan Barat,” dan bahwa kerja sama mereka kini menjadi “faktor penstabil utama di tengah transformasi global.”
Sementara itu, Menteri Keuangan China Lan Fo’an, yang turut memimpin pertemuan tersebut, menyerukan koordinasi yang lebih erat dalam kebijakan makroekonomi serta peningkatan kerja sama di bidang regulasi keuangan, akuntansi, dan perpajakan.
“China dan Rusia sama-sama merupakan kekuatan konstruktif dalam menjaga stabilitas strategis global dan memperkuat tata kelola dunia,” kata Lan, dikutip kantor berita TASS.
Dialog Keuangan Rusia–China ke-11 diadakan di Beijing saat kedua negara terus memperluas penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan mencari mekanisme baru untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.