Muhammad Abdullah Azzam
04 Juni 2020•Update: 04 Juni 2020
Ahmet Gürhan Kartal
LONDON
Ribuan pengunjuk rasa berkumpul di pusat London pada Rabu untuk menunjukkan solidaritas mereka dengan demonstrasi Black Lives Matter di Amerika Serikat (AS), yang dipicu oleh kematian George Floyd.
Floyd, seorang Afrika-Amerika berusia 46 tahun, yang tewas setelah terengah-engah karena tak bisa bernapas akibat dicekik oleh kaki Derek Chauvin, seorang petugas polisi kulit putih yang berlutut di leher Floyd selama sekitar sembilan menit.
Floyd terbunuh karena "sesak napas akibat tekanan yang berkelanjutan," sebuah otopsi independen mengungkapkan pada Senin.
Pengunjuk rasa berkumpul di ibu kota Inggris sejak hari Minggu kemarin di Trafalgar Square, dan diperkirakan ada lebih banyak aksi protes serupa dalam beberapa hari mendatang di kota tersebut dan seluruh negeri.
Para pengunjuk rasa berteriak "tidak ada keadilan, tidak ada kedamaian," dan beberapa demonstran memegang poster bertuliskan "Mulailah melindungi semua nyawa [orang] hitam."
Protes juga dilakukan pada Rabu malam di distrik Brixton dan Lewisham, London.
Kematian Floyd memicu demonstrasi damai yang berlanjut di seluruh AS, meskipun beberapa di antaranya berubah menjadi kekerasan dan penjarahan.
Derek Chauvin, polisi kulit putih yang menimpa leher Floyd ke tanah dengan lututnya, sekarang menghadapi tuduhan pembunuhan tingkat tiga dan pembunuhan tidak disengaja.