Muhammad Nazarudin Latief
20 Agustus 2019•Update: 21 Agustus 2019
JAKARTA
Dewan Direksi The International Rubber Consortium (Konsorsium Karet Internasional/IRCo) mewaspadai penurunan permintaan karet global sebagai dampak perang dagang antara Amerika Serikat dan China.
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan, Kementerian Perdagangan Kasan yang menjadi wakil Indonesia di lembaga tersebut, mengatakan lemahnya permintaan dari China terjadi karena menurunnya produksi dan penjualan otomotif di negeri tirai bambu tersebut.
Oleh karena itu, sejumlah langkah antisipatif perlu diambil untuk menyiasati kondisi global yang tidak menentu tersebut.
Salah satunya negara-negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengintensifkan upaya untuk meningkatkan konsumsi karet dalam proyek-proyek infrastruktur seperti jalan, seismik, dan bantalan jembatan.
Selain itu, karet alam juga digunakan dalam produk lain seperti spakbor dermaga, ubin pengaman taman bermain, kerucut lalu lintas, spanduk jalan, serta tikar serat,” ujar Kasan.
IRCo pada Jumat lalu mengadakan pertemuan membahas kelanjutan implementasi kesepakatan skema tonase ekspor (Agreed Export Tonnage Scheme/AETS). Skema ini merupakan kesepakatan Indonesia, Malaysia, dan Thailand untuk mengurangi volume ekspor karet alam sebanyak 240 ribu MT.
Implementasi AETS untuk Indonesia dan Malaysia berlangsung pada periode 1 April—31 Juli 2019, sementara Thailand pada 20 Mei—19 September 2019.
Indonesia menurut Kasan telah memenuhi kewajibannya dengan total ekspor sebesar 934,36 ribu ton.
Wabah gugur daun
Dalam pertemuan tersebut juga terungkap bahwa negara-negara anggota IRTC saat ini menghadapi wabah penyakit gugur daun Pestalotiopsis sp.
Penyakit ini telah menjangkiti lahan perkebunan karet di Indonesia dan semenanjung Malaysia.
Saat ini, Thailand juga mewaspadai kemungkinan penyebaran penyakit tersebut ke wilayahnya.
Sebelumnya pada 24 Juli 2019, Pemerintah Indonesia menyatakan bahwa penyakit gugur daun telah menyerang sentra karet Sumatra dan Kalimantan seluas kurang lebih 382 ribu hektare.
Hal ini berdampak pada pengurangan karet Indonesia sedikitnya sebesar 15 persen dari total produksi 2019.
Kemunculan penyakit ini merupakan konsekuensi dari kurangnya perawatan yang dilakukan petani karet akibat dampak harga karet yang tidak stabil dalam waktu lama.