Dunia

Presiden Brasil desak pemimpin dunia ‘kalahkan’ penyangkal krisis iklim pada pembukaan COP30

Lula menolak anggaran pertahanan karena dianggap mengalihkan perhatian dari krisis iklim global yang sebenarnya

11.11.2025 - Update : 12.11.2025
Presiden Brasil desak pemimpin dunia ‘kalahkan’ penyangkal krisis iklim pada pembukaan COP30 Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva berpidato saat Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) (Foto file - Anadolu Agency)

BOGOTA, Kolombia

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva memanfaatkan pembukaan resmi Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di kota Amazon, Belem, pada Senin untuk menyerukan kepada para pemimpin dunia agar secara tegas “mengalahkan” mereka yang menolak sains iklim.

Dalam sesi pleno pertama, Lula secara langsung menantang skeptisisme iklim dan penyebaran disinformasi, yang menurutnya menghambat kerja sama global.

“Di era disinformasi, kaum gelap menolak tidak hanya bukti ilmiah tetapi juga kemajuan multilateralisme,” katanya. “Mereka mengendalikan algoritma, menabur kebencian, dan menyebarkan ketakutan. Mereka menyerang lembaga, ilmu pengetahuan, dan universitas. Sudah saatnya kita memberikan kekalahan baru kepada para penyangkal.”

Kecaman keras tersebut muncul ketika para pemimpin dari ekonomi terbesar dunia, termasuk AS, China, dan India, diketahui tidak hadir dalam konferensi tersebut.

Lula mengecam absennya “orang-orang yang menyalakan perang,” secara khusus menyinggung peningkatan anggaran pertahanan yang digencarkan oleh AS dan Eropa.

Ia juga mengkritik pengeluaran global yang sangat besar untuk pertahanan, dengan berpendapat bahwa hal tersebut merupakan salah alokasi sumber daya yang seharusnya dialihkan untuk solusi iklim bagi negara-negara berkembang.

Pemimpin berhaluan kiri itu membandingkan biaya konflik dengan investasi yang dibutuhkan untuk mencapai target iklim.

“Jika orang-orang yang menyalakan perang hadir di COP30, akan jauh lebih murah mengeluarkan 1,3 triliun dolar per tahun untuk mengakhiri masalah iklim daripada 2,7 triliun dolar untuk berperang seperti yang mereka lakukan tahun lalu,” ujarnya.

Ia menyerukan kepada para negosiator agar bersikap ambisius dan menegaskan kembali komitmen terhadap tujuan utama Perjanjian Paris: membatasi pemanasan global di bawah 2°C dibandingkan dengan tingkat pra-industri, dengan target 1,5°C. Perjanjian tersebut mengharuskan pengurangan emisi gas rumah kaca serta peningkatan kontribusi ekonomi untuk mengatasi dampak krisis iklim.

Lula juga menyoroti pentingnya makna simbolis penyelenggaraan konferensi di Belem, yang terletak di jantung Amazon namun separuh penduduknya masih belum memiliki akses terhadap sanitasi dasar.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.